Kamis, 21 Juli 2005

Sholat-sholat Sunnat (Rawatib)


Oleh: Ahmad Bahiej

    Sholat sunnat merupakan sholat yang dikerjakan oleh Nabi Muhammad SAW yang tidak dihukumi wajib, namun jika dilakukan oleh seorang mukmin maka akan mendapatkan pahala. Sebaliknya jika tidak dilakukan oleh orang mukmin, maka pada prinsipnya tidak akan dihukumi berdosa (tidak apa-apa).
     Hikmah disyari'atkan sholat-sholat sunnat tersebut antara lain
  a.     seorang mukmin tentu tidak akan mampu memenuhi kualitas 100% sempurna dalam hal ibadah wajibnya. Oleh karena itu, dengan ditambahkannya syari'at sholat sunnat maka diharapkan kualitas ibadah wajibnya dapat lebih meningkat;
  b.    selain alasan bahwa sholat sunnat telah bersifat 'ubudiyyah (bentuk penghambaan mukmin ke Allah SWT), sholat sunnat juga dijadikan wahana komunikasi antara mukmin dengan Allah dengan tujuan dan maksud tertentu, sesuai dengan harapan pelakunya. Misalnya seorang mukmin yang sedang mempunyai hajat/keinginan/kebutuhan tertentu, maka dia mengharap pertolongan Allah melalui sholat hajat;
       dan hikmah-hikmah yang lain yang hanya diketahui secara pasti oleh Allah.
Para ulama membedakan sholat-sholat sunnat dengan 2 kelompok besar, yaitu
   a.    sholat sunnat rawatib, yaitu sholat sunnat yang dikerjakan beriringan dengan sholat wajib, baik sebelum sholat wajib maupun sesudahnya seperti sholat sunnat sebelum dan sesudah dhuhur, setelah maghrib, dsb.
  b.    sholat sunnat ghairu rawatib, yaitu sholat sunnat yang dikerjakan tidak beriringan dengan sholat wajib seperti sholat sunnat tahajud, dhuha, dsb.

Sholat Sunnat Rawatib

1. Sholat sunnat rowatib adalah sholat sunat yang mengikuti sholat wajib, dilakukan sebelum atau sesudah sholat wajib.
2. Sholat sunnat rowatib ada yang bersifat muakkad (yang dikuatkan karena selalu dilakukan oleh Nabi), dan ada yang bersifat ghoiru muakkad (tidak dikuatkan karena Nabi jarang melakukannya).
3.    Yang termasuk sholat sunnat rowatib muakkad adalah sebagai berikut:
       a.    2 rokaat sebelum shubuh (sholat sunnat fajar)
              Dasarnya adalah sebagai berikut:
أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ إِذَا اعْتَكَفَ الْمُؤَذِّنُ لِلصُّبْحِ وَبَدَا الصُّبْحُ صَلَّى رَكْعَتَيْنِ خَفِيفَتَيْنِ قَبْلَ أَنْ تُقَامَ الصَّلاَةُ (رواه البخارى)
Sesungguhnya Rasulullah ketika muadzin berdiam di masjid untuk sholat shubuh dan setelah mulai waktu shubuh, beliau sholat 2 rokaat yang ringan sebelum sholat shubuh didirikan (HR Bukhori)
       b.    2 rokaat sebelum dhuhur
       c.     2 rokaat sesudah dhuhur
       d.    2 rokaat sesudah maghrib
       e.    2 rokaat sesudah isya'
              Dasarnya adalah sebagai berikut:
أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يُصَلِّي قَبْلَ الظُّهْرِ رَكْعَتَيْنِ وَبَعْدَهَا رَكْعَتَيْنِ وَبَعْدَ الْمَغْرِبِ رَكْعَتَيْنِ فِي بَيْتِهِ وَبَعْدَ الْعِشَاءِ رَكْعَتَيْنِ وَكَانَ لاَ يُصَلِّي بَعْدَ الْجُمُعَةِ حَتَّى يَنْصَرِفَ فَيُصَلِّي رَكْعَتَيْنِ (رواه البخارى)
            Sesungguhnya Nabi sholat sebelum dan sesudah dhuhur 2 rokaat, sesudah maghrib 2 rokaat di rumahnya, dan 2 rokaat sesudah isya'. Nabi tidak sholat sesudah Jum'at sampai beliau selesai, baru kemudian sholat 2 rokaat (HR Bukhori).
4.    Yang termasuk sholat sunnat rowatib ghoiru muakkad adalah:
       a.    2 rokaat sebelum dhuhur
       b.    2 rokaat sesudah dhuhur
              Dasarnya adalah sebagai berikut:
مَنْ صَلَّى قَبْلَ الظُّهْرِ أَرْبَعًا وَبَعْدَهَا أَرْبَعًا حَرَّمَهُ اللَّهُ عَلَى النَّارِ (رواه الترمذى وابو داود وابن ماجة)
        Barangsiapa sholat sunnat sebelum dan sesudah sholat dhuhur, maka Allah mengharamkannya masuk ke dalam neraka (HR Turmudzi, Abu Dawud, dan Ibnu Majah)
       c.     4 rokaat sebelum 'ashar
              Dasarnya adalah sebagai berikut:
كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُصَلِّي قَبْلَ الْعَصْرِ أَرْبَعَ رَكَعَاتٍ يَفْصِلُ بَيْنَهُنَّ بِالتَّسْلِيمِ عَلَى الْمَلاَئِكَةِ الْمُقَرَّبِينَ وَمَنْ تَبِعَهُمْ مِنْ الْمُسْلِمِينَ وَالْمُؤْمِنِينَ (رواه الترمذى)
           Nabi Muhammad SAW sholat sunnat sebelu 'Ashar 4 rokaat. Antara 4 rokaat itu Nabi memisahkannya dengan salam kepada para malaikat yang selalu mendekatkan diri kepada Allah, dan kepada orang-orang muslim dan mukmin yang mengikutinya (HR Turmudzi)
       d.    2 rokaat sebelum maghrib
              Dasarnya adalah sebagai berikut:
صَلُّوا قَبْلَ صَلاَةِ الْمَغْرِبِ قَالَ فِي الثَّالِثَةِ لِمَنْ شَاءَ كَرَاهِيَةَ أَنْ يَتَّخِذَهَا النَّاسُ سُنَّةً (رواه البخارى)
            Sholatlah kalian sebelum maghrib, (perkataan Nabi ini) sampai ketika kalinya, bagi orang yang membencinya supaya manusia mengambilnya sebagai sunnat (HR Bukhori)
       e.    2 rokaat sebelum isya'
              Dasarnya adalah sebagai berikut:
قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَيْنَ كُلِّ أَذَانَيْنِ صَلاَةٌ بَيْنَ كُلِّ أَذَانَيْنِ صَلاَةٌ ثُمَّ قَالَ فِي الثَّالِثَةِ لِمَنْ شَاءَ (رواه البخارى)
Nabi bersabda, di antara dua adzan (adzan dan iqamat) ada sholat (sunnat). Nabi mengucapkannya sampai tiga kali, bagi siapa yang menghendaki. (HR Bukhori)
4.    Sholat sunnat sesudah shubuh dan ashar dimakruhkan karena pada saat itu terjadi terbit matahari dan tenggelemnya matahari. Di samping karena Nabi tidak pernah melakukannya, sholat sunnat sesudah shubuh dan ashar dikhawatirkan akan menimbulkan kesamaan dengan penyembah matahari yang memujanya pada waktu pagi dan sore.
5.    Seluruh sholat sunnat rowatib baik yang muakkad maupun yang ghoiru muakkad, yang dilakukan sebelum maupun sesudah sholat wajib dapat lebih dipahami dengan bentuk tabel berikut ini.


Sholat Sunnat Rawatib

Sholat Sunnat Rowatib Qobliyyah
(Sebelum Sholat Wajib)
Sholat Wajib
Sholat Sunnat Rowatib Ba'diyyah
(Sesudah Sholat Wajib)
Ghoiru Muakkad
(Tidak Dikuatkan)
Muakkad
(Dikuatkan)
Muakkad
(Dikuatkan)
Ghoiru Muakkad
(Tidak Dikuatkan)
-
2 rokaat

SHUBUH

-
-





2 rokaat
2 rokaat

DHUHUR

2 rokaat
2 rokaat





2 rokaat
2 rokaat
-

ASHAR

-
-





2 rokaat
-

MAGHRIB

2 rokaat
-





2 rokaat
-

ISYA'

2 rokaat
-

Kamis, 07 Juli 2005

Qasar dan Jama' Sholat

Oleh: Ahmad Bahiej

1.  Qasar (meringkas) sholat merupakan rukhshah (keringanan) yang diberikan Allah SWT kepada mukmin dikarenakan sedang melakukan perjalanan. Dasar kebolehan meringkas sholat ini adalah Surat an-Nisa' ayat 101:
وَإِذَا ضَرَبْتُمْ فِي الأَرْضِ فَلَيْسَ عَلَيْكُمْ جُنَاحٌ أَنْ تَقْصُرُوْا مِنَ الصَّلاَةِ إِنْ خِفْتُمْ أَنْ يَفْتِنَكُمُ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا إِنَّ الْكَافِرِيْنَ كَانُوا لَكُمْ عَدُوٌّا مُبِيْنًا
     Dan apabila kamu bepergian di muka bumi, maka tidaklah mengapa kamu menqashar shalat(mu), jika kamu takut diserang orang-orang kafir. Sesungguhnya orang-orang kafir itu adalah musuh yang nyata bagimu.
     Dalam ayat al-Qur'an di atas, kebolehan mengqashar sholat pada awalnya dikarenakan adanya kekhawatiran terhadap gangguan orang-orang kafir selama dalam perjalanan. Walaupun demikian, jika jaman sekarang telah aman atau tidak khawatir adanya gangguan dari orang-orang kafir jika kita melakukan sholat di perjalanan, kita tetap disunatkan untuk melakukan qasar sholat karena merupakan shodaqah dari Allah terhadap umatnya.
يَعْلَى بْنِ أُمَيَّةَ سَأَلَ لِعُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ لَيْسَ عَلَيْكُمْ جُنَاحٌ أَنْ تَقْصُرُوا مِنْ الصَّلاَةِ إِنْ خِفْتُمْ أَنْ يَفْتِنَكُمْ الَّذِينَ كَفَرُوا فَقَدْ أَمِنَ النَّاسُ فَقَالَ عَجِبْتُ مِمَّا عَجِبْتَ مِنْهُ فَسَأَلَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ ذَلِكَ فَقَالَ صَدَقَةٌ تَصَدَّقَ اللَّهُ بِهَا عَلَيْكُمْ فَاقْبَلُوا صَدَقَتَهُ (رواه مسلم و غيره)
   Ya'la bin Umayyah bertanya kepada Umar bin Khattab tentang ayat laisa 'alaikum juhaahun an taqshuruu…, padahal masa itu orang-orang mukmin telah merasa aman. Umar menjawab, "Saya heran dari apa yang engkau herankan". Yala bin Umayyah kemudian bertanya kepada Rasulullah tentang itu dan Nabi menjawab, "(hal itu) adalah shodaqah yang Allah telah menyedekahkan kepada kalian, maka terimalah shodaqah-Nya" (HR Muslim, Abu Dawud, Turmudzi, Nasa'i, Ibnu Majah, Ahmad, dan Daromiy)

2.  Menurut ulama-ulama fiqh, syarat yang harus dipenuhi sehingga seseorang diperbolehkan melakukan qashar sholat adalah:
      a. Tujuan perjalanannya tertentu dan diketahui bahwa jarak yang harus ditempuh jauh. Dengan adanya syarat ini, seorang istri atau suami yang nusyuz (minggat) tidak diperbolehkan mengqasar shalat karena seringkali seorang yang minggat itu tidak memiliki tujuan yang pasti.
   b. Perjalanan yang dilakukan bertujuan untuk kebaikan, bukan kemaksiatan. Jika perjalanan bertujuan untuk maksiat kepada Allah, maka tidak diperbolehkan melakukan qasar sholat karena rukhshah (keringanan dari Allah) tidak berlaku bagi orang-orang yang maksiat. Hal ini didasarkan pada kaidah yang diambil dari surat al-Maidah ayat 3:
فَمَنِ اضْطُرَّ فِي مَخْمَصَةٍ غَيْرَ مُتَجَانِفٍ لإِثْمٍ فَإِنَّ اللهَ غَفُوْرٌ رَحِيْمٌ
     Maka barang siapa terpaksa karena kelaparan tanpa sengaja berbuat dosa, sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.
      c. Jarak perjalanannya adalah ± 80 km. Hal ini didasarkan pada sebuah hadis shahih yang menjelaskan tentang atsar sahabat yang diriwayatkan oleh Imam al-Baihaqy dan Imam asy-Syafi'i:
اِنَّ عَطَاءَ سَأَلَ ابْنَ عَبَّاسٍ اَقْصُرُ اِلَى عَرَفَةَ فَقَالَ لاَ فَقَالَ اِلَى مِنَى فَقَالَ لاَ لَكِنْ اِلَى جِدَّةَ وَعَسْفَانَ وَالطَّائِفَ
Atho' bertanya kepada Abdullah bin Abbas, "Saya mengqasar (jika bepergian) ke Arafah". Abdullah bin Abbas menjawab, "Jangan". Atho bertanya lagi "ke Mina", Abdullah bin Abbas menjawab, "Jangan, tetapi ke Jeddah, Asfan, dan Thaif".
Dengan dasar ini, maka dapat diketahui bahwa jarak yang dapat dilakukan qashar sholat adalah jika dari Makkah ke Jeddah (80 km), atau dari Makkah ke Asfan (90 km), atau dari Makkah ke Madinah (410 km), yang minimal adalah ± 80 km. Sedangkan jarak Makkah-Arafah (2 km) dan Makkah-Mina (7 km) masih terlalu dekat sehingga tidak dapat dilakukan qashar.
d. Sholat yang dijama' adalah sholat yang empat rakaat (Dhuhur, Ashar, Isya'). Sedangkan Maghrib dan Shubuh tidak dapat diqashar.
e.   Niat mengqashar sholat ketika takbiratul ihram.

3.  Jama' (mengumpulkan) sholat dibolehkan ketika seseorang melakukan qashar. Sholat yang boleh dijama' hanyalah sholat dhuhur dikumpulkan dengan sholat ashar, dan sholat maghrib dikumpulkan dengan sholat isya'. Dengan demikian, maka seseorang dapat hanya melakukan qashar sholat atau sekaligus mengqasar dan menjama' sholat.

4.  Jika mengumpulkannnya dalam waktu sholat yang awal (dhuhur-ashar dilakukan waktu dhuhur atau maghrib-isya dilakukan waktu maghrib) maka disebut jama' taqdim. Sedangkan jika dilakukan pada waktu sholat kedua (dilakukan waktu ashar atau isya') disebut dengan jama' ta'khir.

5.   Tabel pelaksanaan sholat qashar dan jama' adalah sebagai berikut:

No.
Waktu Sholat
Rukhshah
Jumlah Rakaat
Keterangan
1.
Shubuh
-
tetap 2 rakaat
Tidak diberlakukan jama' maupun qashar
2.
Dhuhur
Qashar dan jama' taqdim dengan Ashar
Dhuhur 2 rokaat dan Ashar 2 rokaat

3.
Ashar
Qashar dan jama' ta'khir dengan Dhuhur
Dhuhur 2 rokaat dan Ashar 2 rokaat

4.
Maghrib
Qashar dan jama' taqdim dengan Isya
Maghrib 3 rokaat dan Isya' 2 rokaat
Maghrib tidak diberlakukan qashar
5.
Isya
Qashar dan jama' ta'khir dengan Maghrib
Maghrib 3 rokaat dan Isya' 2 rokaat
Maghrib tidak diberlakukan qashar

6.   Syarat yang harus dipenuhi jika melakukan jama' taqdim adalah:
      a.   Sholat yang awal dilakukan pada waktu pertama. Jadi misalnya melakukan jama taqdim antara sholat dhuhur dan ashar (sehingga dilakukan pada waktu sholat dhuhur), maka sholat dhuhur dilakukan terlebih dahulu.
      b.   Niat jama' pada waktu sholat pertama.
      c.   Antara sholat pertama dan kedua dilakukan secara terus-menerus (walaupun disisipi dengan salam). Artinya, tidak disela-selani dengan perbuatan lain, misalnya sholat sunnat.
لَمَّا جَمَعَ بَيْنَ الصَّلاَتَيْنِ وَالَى بَيْنَهُمَا وَتَرَكَ الرَّوَاتِبَ بَيْنَهُمَا ...
          Ketika Nabi menjama' dua sholat, beliau melakukannya dengan terus menerus dan meninggalkan sholat sunnat di antaranya…
      d. Diperkirakan dalam waktu sholat yang kedua orang masih melakukan perjalanan, karena perjalanan itu sendiri adalah menjadi sebab jama'. Oleh karena itu, menurut ulama fiqh, menjama' sholat dilakukan ketika orang telah/masih melakukan perjalanan. Menjama' sholat tidak dapat dilakukan di rumah sendiri, namun dilakukan ketika seseorang masih dalam perjalanan dan masih/sudah berada di luar desanya (balad).

7.   Sedangkan syarat sholat jama' ta'khir adalah:
      a.   Niat menjama' ta'khir ketika masih dalam waktu sholat pertama.
    b.  Diperkirakan dalam waktu sholat yang kedua orang masih melakukan perjalanan, karena perjalanan itu sendiri adalah menjadi sebab jama'.

8.  Dalam beberapa hadis disebutkan bahwa Nabi pernah juga menjama' sholat, namun bukan karena dalam perjalanan atau khawatir.
صَلَّى رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الظُّهْرَ وَالْعَصْرَ جَمِيعًا وَالْمَغْرِبَ وَالْعِشَاءَ جَمِيعًا فِي غَيْرِ خَوْفٍ وَلاَ سَفَرٍ (رواه مسلم و ابو داود)
Rasulullah sholat dhuhur dan ashar dengan dijama', serta maghrib dan isya' dengan dijama' tanpa kondisi khawatir dan tidak dalam perjalanan. (HR Muslim dan Abu Dawud).
Menurut tokoh-tokoh hadis dan fiqh yang terkenal pada masa awal, keadaan waktu itu di Madinah adalah cuaca buruk dan hujan terus-menerus. Oleh karena itu, Nabi memutuskan untuk melakukan jama' taqdim bersama para sahabat, sehingga mereka tidak disusahkan oleh cuaca buruk itu untuk datang berjama'ah di masjid Nabi. Hal ini diperkuat dengan adanya hadis lain yang diriwayatkan oleh Bukhari.
أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صَلَّى بِالْمَدِينَةِ سَبْعًا وَثَمَانِيًا الظُّهْرَ وَالْعَصْرَ وَالْمَغْرِبَ وَالْعِشَاءَ فَقَالَ أَيُّوبُ لَعَلَّهُ فِي لَيْلَةٍ مَطِيرَةٍ (رواه البخارى)
    Sesungguhnya Nabi di Madinah (pernah) selama tujuh dan delapan (kali menjama') sholat dhuhur dan ashar serta sholat maghrib dan isya'. Ayyub berkata, kemungkinan besar pada saat itu adalah malam yang sangat deras hujannya. (HR Bukhari).

      Namun menurut ulama yang lain (a.l. Imam Ahmad bin Hanbal dll) sebab Nabi menjama' dalam hadis tersebut bukanlah karena hujan atau kondisi cuaca yang buruk. Nabi melakukannya karena adanya udzur (halangan) yang lebih berat daripada hujan. Kemungkinan bentuk udzur Nabi pada waktu itu adalah sakit berat atau yang lain yang mengakibatkan Nabi menjama' sholatnya. Hal ini diperkuat oleh jawaban Abdullah bin Abbas (perawi hadis tersebut) ketika ditanyakan mengenai sebab Nabi menjama' sholat. Abdullah bin Abbas menjawab
أَرَادَ أَلاَّ يُحْرِجَ أُمَّتَهُ
      Nabi SAW menghendaki agar tidak memberatkan umatnya.

والله اعلم بالصواب...

Kamis, 02 Juni 2005

Makruh dan Pembatal Sholat


 Oleh: Ahmad Bahiej

Hal-hal yang makruh ketika sholat, antara lain
1.   Menolehkan wajah ketika sholat
      Menolehkan wajah ke kanan atau ke kiri (thingak-thinguk) kecuali ketika salam dalam sholat merupakan kemakruhan. Artinya, perbuatan tersebut termasuk perbuatan yang dibenci namun tidak sampai membatalkan sholat. Dianggap makruh karena dapat mengganggu kekhusukan sholat.
قَالَتْ عَائِشَةَ سَأَلْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ االإلْتِفَاتِ فِي الصَّلاَةِ فَقَالَ هُوَ اخْتِلاَسٌ يَخْتَلِسُهُ الشَّيْطَانُ مِنْ صَلاَةِ الْعَبْدِ (رواه البخاري)
      Berkata Aisyah r.a. (isteri Nabi): Aku bertanya kepada Rasulullah tentang menoleh dalam sholat. Nabi menjawab bahwa (menoleh adalah) tipuan di mana syetan menipu dalam sholat hamba (HR Bukhori)
2.   Memandang langit/ke arah atas
إِذَا كَانَ أَحَدُكُمْ فِي الصَّلاَةِ فَلاَ يَرْفَعْ بَصَرَهُ إِلَى السَّمَاءِ أَنْ يُلْتَمَعَ بَصَرُهُ (رواه النسائى)
      Jika salah seorang dari kalian melakukan sholat, maka janganlah mengangkat pandangannya ke langit. (Jika demikian), maka pandangannya akan disambar (HR Nasai)
      Dalam hadis ini terdapat larangan memandang ke arah langit (atas) dari Rasulullah. Larangan ini tidak sampai kepada hukum haram, namun hanya dibatasi pada tataran makruh.
3.   Menahan hajat dan sholat di hadapan makanan
لاَ صَلاَةَ بِحَضْرَةِ الطَّعَامِ وَلاَ هُوَ يُدَافِعُهُ االأَخْبَثَانِ (رواه مسلم)
      Tidak ada sholat di hadapan makanan dan sambil menahan dua hadas/kotoran
      Dalam hadis ini walaupun menggunakan lam nafi (lam yang meniadakan), namun menurut beberapa ulama fiqh tidak sampai membatalkan sholat. Artinya, sholat tetap dianggap sah jika dilakukan di depan makanan padahal orang yang sholat dalam keadaan lapar, atau orang yang shalat sambil menahan kentut, kencing atau berak. Namun sholatnya makruh (dibenci) karena orang melakukan sholat sambil menahan nafsu (makan dan buang air) sehingga sangat dimungkinkan sholatnya tidak khusu'.
Selain ketiga hal tersebut di atas, beberapa hadis menjelaskan hal-hal makruh yang lain, yaitu:
4.   Sujud tidak menggunakan tujuh anggota badan, atau telapak tangan dan dahi (bathuk) ketika sujud dihalang-halangi oleh pakaian atau anggota badan yang lain.
5.   Sholat sambil meletakkan tangan di pinggang (methènthèng)
6.   Bersin sambil bersuara keras
7.   Sibuk dengan yang dicintai/disukai ketika sholat
8.   Sedakep sambil menyilangkan tangan
9.   Sholat di tengah hari
10. Sholat dalam keadaan ngantuk
11. Meludah ketika sholat
12. Menutup wajah dan menguraikan (nglembrehake) pakaian ketika sholat
13. Menutupi mulut ketika sholat
14. Menguap (angop) ketika sholat
15. Mengusap-usap kerikil yang nempel setelah sujud ketika sholat
16. Sholat dengan rambut tergulung
17. Meniup (debu) ketika akan sujud
18. Sholat bersanding dengan kotoran

Hal-hal yang membatalkan sholat
1.   Meninggalkan salah satu syarat atau rukun sholat. Meninggalkan syarat sholat misalnya sholat di luar waktunya, buang hadas ketika sholat, terkena najis, membuka aurat atau tidak menghadap kiblat. Meninggalkan rukun sholat misalnya tidak takbiratul ikram, tidak membaca al-Fatihah, dan seterusnya. Hal ini didasarkan pada kaidah fiqh maa laa yatimmu al-waajib illaa bihi fahuwa waajib (sesuatu yang menyebabkan kewajiban tidak sempurna itu juga dihukumi wajib).
2.   Mengucapkan kata-kata selain dzikir dalam sholat, walaupun kata itu hanya terdiri dari satu suku kata dan telah mempunyai makna.
      Hal ini didaarkan pada hadis berikut.
إِنَّ هَذِهِ الصَّلاَةَ لاَ يَصْلُحُ فِيهَا شَيْءٌ مِنْ كَلاَمِ النَّاسِ إِنَّمَا هُوَ التَّسْبِيحُ وَالتَّكْبِيرُ وَقِرَاءَةُ الْقُرْآنِ (رواه مسلم واحمد)
      Sesungguhnya ini adalah sholat. Tidak baik (diperbolehkan) di dalamnya terdapat ucapan manusia kecuali (bacaan) tasbih, takbir dan bacaan al-Qur'an. (HR Muslim dan Ahmad)
      Dengan demikian, ucapan manusia walaupun sak kecap (satu suku kata) seperti orang yang sedang sholat dipanggil kemudian menjawab "yo !", maka ucapan tersebut sudah dianggap mempunyai makna sehingga membatalkan sholat.
3.   Makan dengan sengaja walaupun sedikit
      Hal ini menurut ijtihad para ulama disebabkan karena makan ketika sholat bertentangan dengan syari'at sholat itu sendiri. Puasa dapat batal karena makan, apalagi dalam keadaan sholat.
4.   Bergerak lebih dari tiga kali
      Bergerak lebih dari tiga kali dianggap membatalkan sholat karena menurut ijtihad para ulama, gerakan lebih dari tiga kali dianggap gerakan yang banyak di luar tata aturan gerakan sholat dan dapat menghilangkan khusu'.
5.   Adanya perubahan niat
      Menurut ijtihad para ulama. adanya perubahan niat dalam sholat misalnya orang sholat berniat menghentikan sholatnya, maka seketika itu juga sholatnya batal. Hal ini disebabkan karena segala sesuatu tergantung dari niatnya. Termasuk dalam hal ini adalah menggantungkan niat, misalnya sebelum sholat seseorang berniat "jika temanku datang, maka aku membatalkan sholatnya". Dengan adanya penggantungan niat sholat terhadap kedatangan seseorang, maka sholatnya tidak sah. Hal ini didasarkan pada argumen bahwa niat sholat adalah hal utama, maka niat sholat tidak dapat digantungkan dengan hal-hal yang bersifat duniawi.
6.   Tertawa ketika sholat
الضَّاحِكُ فِي الصَّلاَةِ وَالْمُلْتَفِتُ وَالْمُفَقِّعُ أَصَابِعَهُ بِمَنْزِلَةٍ وَاحِدَةٍ (رواه واحمد)
      Orang yang tertawa dalam sholat, orang yang tengak-tengok, dan yang bermain jari-jarinya adalah dalam kedudukan yang sama.( HR Ahmad)
      Menurut beberapa ahli fiqh, tertawa yang membatalkan sholat adalah tertawa yang terbahak-bahak sehingga mengeluarkan suara. Sedangkan tertawa ringan (tersenyum) yang tidak menimbulkan suara disamakan dengan orang yang tolah-toleh/tingak-tinguk dan bermain-main jari-jari, yakni dihukumi makruh.

      Di samping hal-hal yang makruh dan membatalkan sholat tersebut di atas, terdapat etika terhadap orang yang sedang sholat, yaitu tidak lewat di depannya.
 إِذَا صَلَّى أَحَدُكُمْ إِلَى شَيْءٍ يَسْتُرُهُ مِنْ النَّاسِ فَأَرَادَ أَحَدٌ أَنْ يَجْتَازَ بَيْنَ يَدَيْهِ فَلْيَدْفَعْهُ فَإِنْ أَبَى فَلْيُقَاتِلْهُ فَإِنَّمَا هُوَ شَيْطَانٌ  
Jika salah seorang sholat, maka tutuplah (depan tempat sholatnya agar terhindar) dari (lalu lintas) manusia. Jika ada orang lain yang akan melalui batas/tempat sholatnya, tolaklah, jika dia tidak mau (tetap akan melewati depan orang sholat) maka perangilah, sesungguhnya dia adalah syetan (HR Bukhari).
      Hadis ini ditujukan kepada orang yang sholat, yaitu agar membuat batas tempat sholatnya, seperti dengan cara menggelar sajadah atau dengan tanda lain. Jika tidak ada tanda maka sholat sambil menghadap tembok sehingga orang lain tidak akan melewati di depannya. Jika ada orang yang akan lewat di depan orang sholat, maka orang yang sholat boleh menolaknya dengan memberi tanda dengan tangan.
      Sedangkan terhadap orang lain, maka hendaklah tidak melewati depan orang shalat. Jika akan mengisi shaf yang ada di depan yang masih kosong, padahal jamaah sholat di belakang, maka dilakukan dengan mlipir di pinggir shaf atau lewat di samping orang shalat tanpa melangkahi tempat sujudnya. Dalam sebuah hadis riwayat Darami dan Ibnu Majah, Nabi menyatakan bahwa lebih baik menunggu selama 40 dari pada melewati depan orang shalat. Para perawi hadis tidak mengerti apakah 40 tahun 40 bulan atau 40 hari.

Rabu, 11 Mei 2005

Sunat-sunat Sholat (2)

Oleh: Ahmad Bahiej

     Duduk dengan cara duduk iftirasy untuk semua duduk dalam sholat, kecuali pada duduk tahiyat akhir yang dilakukan dengan cara duduk tawaruk. Duduk iftirasy adalah duduk dengan berlandaskan telapak kaki kiri, sedangkan kaki kanan terletak di samping. Sedangkan duduk tawaruk adalah duduk dengan menyilangkan kaki kiri ke pergelangan kaki kanan.
10. Membaca doa duduk di antara dua sujud. Doa duduk di antara dua sujud adalah sebagai berikut.
أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَقُولُ بَيْنَ السَّجْدَتَيْنِ اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِي وَارْحَمْنِي وَاجْبُرْنِي وَاهْدِنِي وَارْزُقْنِي (رواه الترمذى)
      Sesungguhnya Nabi berdoa dalam (duduk) antara dua sujud: Allahummaghfirlī warhamnī wajburnī wahdinī warzuqnī (HR Turmudzi)
11. Duduk istirahat, yaitu duduk sebentar antara sujud dan berdiri (setelah sujud kedua menuju berdiri) pada rakaat pertama dan ketiga.
النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُصَلِّي فَإِذَا كَانَ فِي وِتْرٍ مِنْ صَلاَتِهِ لَمْ يَنْهَضْ حَتَّى يَسْتَوِيَ قَاعِدًا (رواه البخارى)
      Nabi SAW ketika shalat dan selesai dari rakaat ganjil (rakaat pertama dan ketiga) shalatnya, maka beliau tidak berdiri hingga beliau duduk (terlebih dahulu) (HR Bukhari)
12. Membaca shalawat Nabi dengan sesempurna-sempurnanya setelah membaca tasyahud akhir.
كَعْبُ بْنُ عُجْرَةَ قَالَ سَأَل رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقُلْنَا يَا رَسُولَ اللَّهِ كَيْفَ الصَّلاَةُ عَلَيْكُمْ أَهْلَ الْبَيْتِ فَإِنَّ اللَّهَ قَدْ عَلَّمَنَا كَيْفَ نُسَلِّمُ عَلَيْكُمْ قَالَ قُولُوا اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ اللَّهُمَّ بَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ (رواه البخارى)
      Ka'ab bin Ujrah berkata,"Saya bertanya kepada Rasulullah: Ya Rasulullah bagaimana membaca sholawat atas Engkau, ahlul bait, sesungguhnya Allah mengajari kami. (Dan) bagaimana kami membaca salam atas Engkau?. Nabi menjawab: Bacalah …" (HR Bukhari).
13. Membaca doa setelah tasyahud akhir
أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَدْعُو فِي الصَّلاَةِ اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ فِتْنَةِ الْمَسِيحِ الدَّجَّالِ وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ فِتْنَةِ الْمَحْيَا وَفِتْنَةِ الْمَمَاتِ اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ الْمَأْثَمِ وَالْمَغْرَمِ (رواه البخارى)
      Sesungguhnya Rasulullah SAW berdoa di dalam sholatnya Allahumma inniī a'ūdzubika … (HR Bukhari)
إِذَا تَشَهَّدَ أَحَدُكُمْ فَلْيَسْتَعِذْ بِاللَّهِ مِنْ أَرْبَعٍ يَقُولُ اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ عَذَابِ جَهَنَّمَ وَمِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ وَمِنْ فِتْنَةِ الْمَحْيَا وَالْمَمَاتِ وَمِنْ شَرِّ فِتْنَةِ الْمَسِيحِ الدَّجَّالِ (رواه مسلم)
      Jika salah seorang kalian membaca tasyahud, maka mintalah perlindungan kepada Allah dari empat perkara. Nabi kemudian bersabda allahumma inniī a'ūdzubika min 'adzābijahannama … (HR Muslim)

      Atau dengan membaca doa sebagai berikut.
َاللّهُمَّ إِنِّي أَعُوْذُبِكَ مِنْ عَذَابِ جَهَنَّمَ وَمِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ وَمِنْ فِتْـنَةِ الْمَحْيَا وَ الْمَمَاتِ وَمِنْ فِتْنَةِ الْمَسِيحِ الدَّجَّالِ. يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوْبِ ثَبِّتْ قَلْبِيْ عَلَى دِيْنِكَ
      Ya Allah, aku memohon perlindungan-Mu dari siksa neraka Jahanam, siksa qubur, fitnah (dalam masa) kehidupanku dan kematianku, dan fitnah Dajjal. Ya Dzat yang menggoncang-goncangkan hati, tetapkanlah hatiku dalam agama-Mu.
14. Salam kedua seraya menengok ke kanan dan ke kiri.
كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ يُسَلِّمُ عَنْ يَمِينِهِ وَعَنْ يَسَارِهِ السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللَّهِ السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللَّهِ (رواه الترمذى)
      Sesungguhnya Nabi SAW salam ke kanan dan ke kiri (sambil membaca) Assalaāmu'alaikum warahmatullāh, assalāmu'alaikum warahmatullāh (HR Turmudzi)
15. Membaca takbir setiap kali pindah gerakan, kecuali ketika bangun dari ruku' yang membaca sami'allāhu liman hamidah.
مُطَرِّفٌ قَالَ صَلَّيْتُ أَنَا وَعِمْرَانُ صَلاَةً خَلْفَ عَلِيِّ بْنِ أَبِي طَالِبٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ فَكَانَ إِذَا سَجَدَ كَبَّرَ وَإِذَا رَفَعَ كَبَّرَ وَإِذَا نَهَضَ مِنْ الرَّكْعَتَيْنِ كَبَّرَ فَلَمَّا سَلَّمَ أَخَذَ عِمْرَانُ بِيَدِي فَقَالَ لَقَدْ صَلَّى بِنَا هَذَا صَلَاةَ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَوْ قَالَ لَقَدْ ذَكَّرَنِي هَذَا صَلاَةَ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ (رواه البخارى)
      Mutharrif berkata, saya dan Imron sholat bersama di belakang Ali bin Abi Thalib r.a. Ketika sujud, beliau takbir, ketika bangun dari sujud beliau takbir, ketika bangun dari dua rakaat beliau takbir. Setelah salam, Imran memegang tanganku sambil berkata, sesungguhnya shalat Nabi seperti shalat ini, atau Imran berkata: sesungguhnya shalat (bersama Ali) ini mengingatkanku akan shalat bersama Nabi. (HR Bukhari)
16. Bersiwak atau sikat gigi setiap kali akan melakukan shalat.
لَوْلاَ أَنْ أَشُقَّ عَلَى أُمَّتِي أَوْ عَلَى النَّاسِ لأَمَرْتُهُمْ بِالسِّوَاكِ مَعَ كُلِّ صَلاَةٍ (رواه البخارى)
      Jika tidak memberatkan umatku atau atas manusia, sungguh aku perintahkan kepada mereka bersiwak setiap kali shalat (HR Bukhari)
17. Melakukan isyarat dengan jari telunjuk ketika duduk tasyahud awal dan akhir.
كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا قَعَدَ يَدْعُو وَضَعَ يَدَهُ الْيُمْنَى عَلَى فَخِذِهِ الْيُمْنَى وَيَدَهُ الْيُسْرَى عَلَى فَخِذِهِ الْيُسْرَى وَأَشَارَ بِإِصْبَعِهِ السَّبَّابَةِ وَوَضَعَ إِبْهَامَهُ عَلَى إِصْبَعِهِ الْوُسْطَى وَيُلْقِمُ كَفَّهُ الْيُسْرَى رُكْبَتَهُ (رواه مسلم)
      Rasulullah ketika duduk membaca doa (tasyahud) dan meletakkan tangan kanannya di atas lutut kanannya, dan meletakkan tangan kiri di atas lutut kiri, serta memberi isyarat dengan jari telunjuknya, dan meletakkan jempolnya pada jari tengahnya. Sedangkan telapak tangan kiri menutup lutut kirinya (HR Muslim)
      Dalam kitab Shahih Muslim bi syarh an-Nawawi (kitab penjelasan dari kitab shahih Muslim) disebutkan bahwa waktu melakukan isyarat ini adalah ketika membaca tasyahud, tepatnya ketika sampai pada lafadh الا الله  . Isyarat ini hanya mempergunakan jari telunjuk tangan kanan. Jika jari telunjuk tangan kanan terpotong atau cacat maka tidak dapat digantikan dengan jari yang lain. Pada saat isyarat, pandangan tetap diarahkan ke kiblat dan niat isyarat dengan jari telunjuk ini adalah untuk tauhid (mengesakan Allah) dan ikhlas.
     

      Di samping adanya sunat-sunat di atas, ada pula etika atau adab/sopan santun ketika seorang muslim melaksanakan sholat (dalam beberapa keterangan, hal ini juga termasuk dalam sunat-sunat shalat), seperti:
a.   Memakai pakaian yang bersih dan pantas.
b.   Shalat dilakukan dengan semangat/trengginas, atau tidak klemat-klemet.
c.   Mengusahakan dengan sekuat tenaga agar sholatnya khusu'. Untuk sampai tahap khsusu' ini diperlukan latihan yang serius. Sebagai langkah awal adalah mengusahakan agar kita faham apa yang kita baca dalam sholat.
d.   Berdzikir setelah sholat.
      Adapun bacaan-bacaan dzikir yang diajarkan oleh Nabi, tersebut dalam hadis-hadis berikut.
كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا انْصَرَفَ مِنْ صَلاَتِهِ اسْتَغْفَرَ ثَلاَثًا وَقَالَ اللَّهُمَّ أَنْتَ السَّلاَمُ وَمِنْكَ السَّلاَمُ تَبَارَكْتَ ذَا الْجَلَالِ وَاالإكْرَامِ (رواه مسلم)
      Rasulullah SAW ketika selesai dari sholatnya (membaca) istighfar  3 kali, dan membaca: Allahumma antassalām, waminkassalām, tabārakta yādzaljalāli wal ikrām. (HR Muslim)
الْمُغِيرَةُ قَالَ إِنِّي سَمِعْتُهُ يَقُولُ عِنْدَ انْصِرَافِهِ مِنْ الصَّلاَةِ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيكَ لَهُ لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ ثَلاَثَ مَرَّاتٍ (رواه البخارى)
      Al-Mughirah berkata: saya mendengar (Nabi) ketika Nabi selesai shalatnya: Lā ilāha illallāh wahdahū lā syarīkalah lahul mulku walahul hamdu wahuwa 'ala kulli syai'in qadīr 3X (HR Bukhari)
مَنْ سَبَّحَ اللَّهَ فِي دُبُرِ كُلِّ صَلاَةٍ ثَلاَثًا وَثلاَثِينَ وَحَمِدَ اللَّهَ ثَلاَثًا وَثَلاَثِينَ وَكَبَّرَ اللَّهَ ثَلاَثًا وَثَلاَثِينَ فَتْلِكَ تِسْعَةٌ وَتِسْعُونَ وَقَالَ تَمَامَ الْمِائَةِ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيكَ لَهُ لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ غُفِرَتْ خَطَايَاهُ وَإِنْ كَانَتْ مِثْلَ زَبَدِ الْبَحْرِ (رواه مسلم)
      Barangsiapa mensucikan Allah di akhir setiap shalat 33 X, memuji Allah 33 X, mengagungkan Allah 33 X, sehingga berjumlah 99. Nabi bersabda lagi, disempurnakan 100 x dengan (tambahan) lā ilāha illallāh wahdahū lā syarīkalah lahul mulku walahul hamdu wahuwa 'ala kulli syai'in qadīr, maka dosa-dosanya diampuni walaupun sebanyak buih-buih di lautan (HR Muslim).

      Dengan tujuan tarbiyah (pendidikan) agar umat selalu berdzikir setelah selesai sholat, para ulama kemudian menyusun amalan dzikir setelah sholat tersebut dengan tersusun secara sistematis dan dibaca dengan keras (jahr). Amalan dzikir tersebut kemudian disebut dengan wiridan. Amalan ini dilakukan dengan dasar hadis berikut:
أَنَّ ابْنَ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا أَخْبَرَهُ أَنَّ رَفْعَ الصَّوْتِ بِالذِّكْرِ حِينَ يَنْصَرِفُ النَّاسُ مِنْ الْمَكْتُوبَةِ كَانَ عَلَى عَهْدِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَقَالَ ابْنُ عَبَّاسٍ كُنْتُ أَعْلَمُ إِذَا انْصَرَفُوا بِذَلِكَ إِذَا سَمِعْتُهُ (رواه البخارى ومسلم وأبو داود)
      Sahabat Ibnu Abbas memberikan kabar bahwa sesungguhnya mengeraskan suara ketika dzikir setelah manusia selesai sholat maktubah (wajib) adalah (dilakukan) sejak zaman Nabi SAW. Ibnu Abbas juga berkata: Saya tahu dan mendengar ketika mereka selesai sholatnya (HR Bukhari, Muslim, dan Abu Dawud)

Kamis, 28 April 2005

Sunat-sunat Sholat (1)


Oleh: Ahmad Bahiej

     Beberapa ulama menggolongkan sunat-sunat solat menjadi dua bagian, yaitu sunat ab’adh dan sunat haiat. Sunat ab’adh adalah sunat-sunat dalam solat yang jika tidak dikerjakan maka disunatkan untuk sujud sahwi yang dilakukan sebelum salam. Sedangkan sunat haiat adalah sunat-sunat dalam solat yang jika tidak dikerjakan tidak ada kesunahan untuk melakukan sujud sahwi. Yang termasuk sunat ab’adh sholat menurut Mazhab Syafi’iyyah adalah (1) membaca tasyahud awal, (2) duduk tasyahud awal, (3) membaca sholawat pada saat duduk tasyahud awal, (4) membaca sholawat kepada keluarga Nabi pada saat tasyahud akhir, (5) membaca qunut pada waktu rakaat kedua setelah i'tidal sholat shubuh, dan (6) membaca sholawat kepada Nabi di waktu qunut.

      Qunut sebagai bagian dari sunnat ab’adh didasarkan atas beberapa hadis al-Hakim, al-Baihaqi, dan Ad-Dar al-Quthni dengan sanad yang sahih bahwa Nabi melakukan qunut nazilah untuk mendoakan orang Islam dalam waktu sebulan, namun tetap melakukan qunut pada waktu sholat shubuh sampai beliau meninggal dunia. Sahabat Umar bin Khatab juga melakukan qunut ini. Pendapat inilah yang dijadikan pegangan bagi penganut mazhab Syafi’iyyah. Namun menurut Imam Malik, qunut bukan termasuk sunnat.
      Adapun sunat-sunat haiat dalam solat antara lain:
1.   Mengangkat kedua telapak tangan setinggi pundak pada waktu (a) takbiratul ikram, (b) akan ruku’, (c) bangun dari ruku’, dan (d) pada saat berdiri dari duduk tahiyat awal.
إِذَا افْتَتَحَ الصَّلَاةَ يَرْفَعُ يَدَيْهِ حَتَّى يُحَاذِيَ مَنْكِبَيْهِ وَإِذَا رَكَعَ وَإِذَا رَفَعَ رَأْسَهُ مِنْ الرُّكُوعِ (رواه الشيخان و النسائى)
      Nabi ketika memulai sholat dengan mengangkat kedua tangannya setinggi pundak, ketika akan ruku’, dan ketika bangun dari ruku’ (HR Bukhari, Muslim, dan Nasa’i)
      Dalam hadis Turmudzi ditambahkan dengan lafadz wa idzā qāma minarrak’ataini rafa’a yadaihi (dan ketika berdiri dari dua rakaat Nabi mengangkat kedua tangannya). Artinya setelah dua rakaat (berarti setelah duduk tahiyat pertama), Nabi mengangkat kedua tangan.
2.   Meletakkan tangan kanan di atas tangan kiri lebih tinggi dari pusar.
…وَضَعَ يَدَهُ الْيُمْنَى عَلَى الْيُسْرَى... (رواه مسلم)
      … Nabi meletakkan tangan kanan di atas tangan kiri … (HR Muslim)
3.   Membaca doa iftitah (pembukaan) setelah takbiratul ikram.
      Doa iftitah ini bermacam-macam, yang semuanya pernah dikerjakan oleh Nabi.
      a.   Riwayat dari Abu Hurairah r.a.:
اللَّهُمَّ بَاعِدْ بَيْنِي وَبَيْنَ خَطَايَايَ كَمَا بَاعَدْتَ بَيْنَ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ اللَّهُمَّ نَقِّنِي مِنْ الْخَطَايَا كَمَا يُنَقَّى الثَّوْبُ الْأَبْيَضُ مِنْ الدَّنَسِ اللَّهُمَّ اغْسِلْ خَطَايَايَ بِالْمَاءِ وَالثَّلْجِ وَالْبَرَدِ
      b.   Riwayat dari Ali bin Abi Thalib r.a.
وَجَّهْتُ وَجْهِيَ لِلَّذِي فَطَرَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ حَنِيفًا وَمَا أَنَا مِنْ الْمُشْرِكِينَ إِنَّ صَلاَتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ لَا شَرِيكَ لَهُ وَبِذَلِكَ أُمِرْتُ وَأَنَا مِنْ الْمُسْلِمِينَ اللَّهُمَّ أَنْتَ الْمَلِكُ لَا إِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ أَنْتَ رَبِّي وَأَنَا عَبْدُكَ ظَلَمْتُ نَفْسِي وَاعْتَرَفْتُ بِذَنْبِي فَاغْفِرْ لِي ذُنُوبِي جَمِيعًا إِنَّهُ لاَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلاَّ أَنْتَ وَاهْدِنِي لأَحْسَنِ الأَخْلاَقِ لاَ يَهْدِي لأَحْسَنِهَا إلاَّ أَنْتَ وَاصْرِفْ عَنِّي سَيِّئَهَا لاَ يَصْرِفُ عَنِّي سَيِّئَهَا إِلاَّ أَنْتَ لَبَّيْكَ وَسَعْدَيْكَ وَالْخَيْرُ كُلُّهُ فِي يَدَيْكَ وَالشَّرُّ لَيْسَ إِلَيْكَ أَنَا بِكَ وَإِلَيْكَ تَبَارَكْتَ وَتَعَالَيْتَ أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوبُ إِلَيْكَ
      c.   Riwayat dari Abdullah bin Umar r.a.:
اللَّهُ أَكْبَرُ كَبِيرًا وَالْحَمْدُ لِلَّهِ كَثِيرًا وَسُبْحَانَ اللَّهِ بُكْرَةً وَأَصِيلًا
4.   Membaca ta’awudz dengan lirih sebelum membaca al-Fatihah pada setiap rakaat.
فَإِذَا قَرَأْتَ الْقُرْآنَ فَاسْتَعِذْ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ
      Setiap kamu membaca al-Qur’an, maka mintalah perlindungan Allah dari syetan yang terkutuk (Surat an-Nahl ayat 98)
5.   Membaca amin baik bagi imam, makmum, maupun sholat munfarid (sendirian).
إِذَا أَمَّنَ الْإِمَامُ فَأَمِّنُوا فَإِنَّهُ مَنْ وَافَقَ تَأْمِينُهُ تَأْمِينَ الْمَلَائِكَةِ غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ (رواه الشيخان)
      Jika imam membaca amin, maka bacalah juga amin, karena sesungguhnya barangsiapa bacaan aminnya bersamaan dengan bacaan aminnya malaikat, maka diampunilah dosa-dosa yang terdahulu (HR Bukhari dan Muslim)
6.   Membaca bagian dari al-Qur’an setelah selesai membaca surat al-Fatihah.
كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقْرَأُ فِي الرَّكْعَتَيْنِ الْأُولَيَيْنِ مِنْ صَلَاةِ الظُّهْرِ بِفَاتِحَةِ الْكِتَابِ وَسُورَتَيْنِ يُطَوِّلُ فِي الْأُولَى وَيُقَصِّرُ فِي الثَّانِيَةِ وَيُسْمِعُ الْآيَةَ أَحْيَانًا وَكَانَ يَقْرَأُ فِي الْعَصْرِ بِفَاتِحَةِ الْكِتَابِ وَسُورَتَيْنِ وَكَانَ يُطَوِّلُ فِي الْأُولَى وَكَانَ يُطَوِّلُ فِي الرَّكْعَةِ الْأُولَى مِنْ صَلَاةِ الصُّبْحِ وَيُقَصِّرُ فِي الثَّانِيَةِ (رواه البخارى)
      Nabi SAW membaca pada dua rakaat pertama dari sholat dhuhur dengan al-Fatihah dan surat (al-Qur’an) dengan surat yang lebih panjang pada rakaat pertama, dan kadang-kadang membaca ayat-ayat (al-Qur’an). Pada waktu shalat Ashar beliau membaca surat al-Fatihah dan surat (al-Qur’an) yang lebih panjang dari pada rakaat keduanya. Nabi SAW (juga) membaca surat yang lebih panjang pada rakaat pertama pada sholat Shubuh. (HR Bukhari).
      Dalam beberapa hadis dan keterangan para ulama salaf (masa lalu) maupun khalaf (masa kini), disunahkan membaca al-Fatihah dan surat pendek dengan keras pada rakaat pertama dan kedua sholat maghrib, sholat isya, dan shalat shubuh.
7.   Membaca doa pada waktu ruku’ dan sujud, serta i'tidal (bangun dari ruku’).
      Berdasarkan hadis-hadis yang ada, do’a ruku’ yang diajarkan Nabi bermacam-macam, dengan perawi yang berbeda pula, yaitu:
      a.   Riwayat ‘Aisyah bin Abu Bakar r.a. (istri Nabi SAW)
سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ رَبَّنَا وَبِحَمْدِكَ اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِي
      b.   Riwayat dari Ali bin Abi Thalib r.a. (sepupu dan sahabat Nabi SAW)
اللَّهُمَّ لَكَ رَكَعْتُ وَبِكَ آمَنْتُ وَلَكَ أَسْلَمْتُ خَشَعَ لَكَ سَمْعِي وَبَصَرِي وَمُخِّي وَعِظَامِي وَعَصَبِي
      c.   Riwayat dari Hudzaifah r. a. (sahabat Nabi SAW)
سُبْحَانَ رَبِّيَ الْعَظِيمِ
      Sedangkan do’a i'tidal seperti yang diriiwayatkan oleh  Ali bin Abi Thalib adalah sebagai berikut.
اللَّهُمَّ رَبَّنَا لَكَ الْحَمْدُ مِلْءَ السَّمَوَاتِ وَالْأَرَضِينَ وَمِلْءَ مَا بَيْنَهُمَا وَمِلْءَ مَا شِئْتَ مِنْ شَيْءٍ بَعْدُ
      Di dalam keterangan hadis, doa sujud juga bermacam-macam, yaitu
      a.   Aisyah r.a.:
سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ رَبَّنَا وَبِحَمْدِكَ اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِي