Rabu, 18 Januari 2006

Sejarah dan Problematika Hukum Pidana Materiel di Indonesia

Oleh: Ahmad Bahiej*

Abstrak
          Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) yang masih diberlakukan di Indonesia saat ini merupakan salah satu dari sekian ratus peraturan hukum warisan kolonial Belanda. KUHP ini mulai diberlakukan secara resmi di Indonesia sejak tanggal 1 Januari 1918. Namun sebelum KUHP itu diberlakukan sebenarnya bangsa Indonesia telah mengenal aturan hukum pidana dalam kehidupan hukum adatnya. Vereenigde Oost Indische Compagnie (VOC) yang pernah menduduki Indonesia pada tahun 1602-1799 dan masa kolonial sebelum 1918 pun pernah memberlakukan hukum pidananya. Perjalanan historis hukum pidana materiel di Indonesia tersebut membawa dinamika dan problematika tersendiri yang diharapkan dapat dijadiklan pijakan dalam pembaharuan hukum pidana materiel saat ini.
Kata kunci:     KUHP, sejarah KUHP, problematika hukum pidana

A.   Pendahuluan
          Sebagai hukum yang bersifat publik, hukum pidana menemukan arti pentingnya dalam wacana hukum di Indonesia. Bagaimana tidak, di dalam hukum pidana itu terkandung aturan-aturan yang menentukan perbuatan-perbuatan yang tidak boleh dilakukan dengan disertai ancaman berupa pidana (nestapa) dan menentukan syarat-syarat pidana dapat dijatuhkan.[1] Sifat publik yang dimiliki hukum pidana menjadikan konsekuensi bahwa hukum pidana itu bersifat nasional. Dengan demikian, maka hukum pidana Indonesia diberlakukan ke seluruh wilayah negara Indonesia.
          Di samping itu, mengingat materi hukum pidana yang sarat dengan nilai-nilai kemanusian mengakibatkan hukum pidana seringkali digambarkan sebagai pedang yang bermata dua. Satu sisi hukum pidana bertujuan menegakkan nilai kemanusiaan, namun di sisi yang lain penegakan hukum pidana justru memberikan sanksi kenestapaan bagi manusia yang melanggarnya. Oleh karena itulah kemudian pembahasan mengenai materi hukum pidana dilakukan dengan ekstra hati-hati, yaitu dengan memperhatikan konteks masyarakat di mana hukum pidana itu diberlakukan dan tetap menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan yang beradab.
          Persoalan kesesuaian antara hukum pidana dengan masyarakat di mana hukum pidana tersebut diberlakukan menjadi salah satu prasyarat baik atau tidaknya hukum pidana. Artinya, hukum pidana dianggap baik jika memenuhi dan berkesesuaian dengan nilai-nilai yang dimiliki masyarakat. Sebaliknya, hukum pidana dianggap buruk jika telah usang dan tidak sesuai dengan nilai-nilai dalam masyarakat.
          Untuk menyongsong pembaharuan hukum pidana materiel Indonesia (RUU KUHP), artikel ini akan menyoroti sejarah perjalanan hukum pidana Indonesia (KUHP) dari masa ke masa. Dengan sorotan historis semacam ini, diharapkan beberapa problematika yang muncul selama berlakunya KUHP (baca: Wetboek van Strafrecht) dapat tercover dan menjadi bahan pijakan bagi pembaharuan hukum pidana materiel Indonesia.
B.   Sejarah Pemberlakuan Hukum Pidana di Indonesia
1.     Masa Sebelum Penjajahan Belanda
Sebelum kedatangan bangsa Belanda yang dimulai oleh Vasco da Gamma pada tahun 1596, orang Indonesia telah mengenal dan memberlakukan hukum pidana adat. Hukum pidana adat yang mayoritas tidak tertulis ini bersifat lokal, dalam arti hanya diberlakukan di wilayah adat tertentu.
Hukum adat tidak mengenal adanya pemisahan yang tajam antara hukum pidana dengan hukum perdata (privaat).[2] Pemisahan yang tegas antara hukum perdata yang bersifat privat dan hukum pidana yang bersifat publik bersumber dari sistem Eropa yang kemudian berkembang di Indonesia.[3] Dalam ketentuannya, persoalan dalam kehidupan sehari-hari masyarakat adat ditentukan oleh aturan-aturan yang diwariskan secara turun-temurun dan bercampur menjadi satu.
Di beberapa wilayah tertentu, hukum adat sangat kental dengan agama yang dijadikan agama resmi atau secara mayoritas dianut oleh masyarakatnya. Sebagai contoh, hukum pidana adat Aceh, Palembang, dan Ujung Pandang yang sangat kental dengan nilai-nilai hukum Islamnya. Begitu juga hukum pidana adat Bali yang sangat terpengaruh oleh ajaran-ajaran Hindu.[4]
Di samping hukum pidana adat mengalami persentuhan dengan agama yang dipeluk oleh mayoritas penduduk, karakteristik lainnya adalah bahwa pada umumnya hukum pidana adat tidak berwujud dalam sebuah peraturan yang tertulis. Aturan-aturan mengenai hukum pidana ini dijaga secara turun-temurun melalui cerita, perbincangan, dan kadang-kadang pelaksanaan hukum pidana di wilayah yang bersangkutan. Namun, di beberapa wilayah adat di Nusantara, hukum adat yang terjaga ini telah diwujudkan dalam bentuk tulisan, sehingga dapat dibaca oleh khalayak umum. Sebagai contoh dikenal adanya Kitab Kuntara Raja Niti yang berisi hukum adat Lampung, Simbur Tjahaja yang berisi hukum pidana adat Sumatera Selatan,[5] dan Kitab Adigama yang berisi hukum pidana adat Bali.[6]
2.    Masa Sesudah Kedatangan Penjajahan Belanda
a.    Masa Vereenigde Oost Indische Compagnie (VOC) Tahun 1602-1799
Masa pemberlakuan hukum pidana Barat dimulai setelah bangsa Belanda datang ke wilayah Nusantara, yaitu ditandai dengan diberlakukannya beberapa peraturan pidana oleh VOC (Vereenigde Oost Indische Compagnie). VOC sebenarnya adalah kongsi dagang Belanda yang diberikan “kekuasaaan wilayah” di Nusantara oleh pemerintah Belanda. Hak keistimewaan VOC berbentuk hak octrooi Staten General yang meliputi monopoli pelayaran dan perdagangan, mengumumkan perang, mengadakan perdamaian dengan kerajaan-kerajaan di Nusantara, dan mencetak uang. Pemberian hak demikian memberikan konsekuensi bahwa VOC memperluas dareah jajahannya di kepulauan Nusantara. Dalam usahanya untuk memperbesar keuntungan, VOC memaksakan aturan-aturan yang dibawanya dari Eropa untuk ditaati orang-orang pribumi.
Setiap peraturan yang dibuat VOC diumumkan dalam bentuk plakaat, tetapi pengumuman itu tidak tidak disimpan dalam arsip. Sesudah diumumkan, plakaat peraturan itu kemudian dilepas tanpa disimpan sehingga tidak dapat diketahui peraturan mana yang masih berlaku dan yang sudah tidak berlaku lagi. Keadaan demikian menimbulkan keinginan VOC untuk mengumpulkan kembali peraturan-peraturan itu. Kumpulan peraturan-peraturan itu disebut sebagai Statuten van Batavia (Statuta Betawi) yang dibuat pada tahun 1642.[7]
Pada tahun 1766 Statuta Batavia itu dibuat kembali dan dihasilkan Statuta Batavia Baru. Statuta itu berlaku sebagai hukum positif baik bagi orang pribumi maupun bagi orang asing, dengan mempunyai kekuatan hukum yang sama dengan peraturan-peraturan lain. Walaupun statuta tersebut berisi kumpulan peraturan-peraturan, namun belum dapat disebut sebagai kodifikasi hukum karena belum tersusun secara sistematis.
Dalam perkembangannya, salah seorang gubernur jenderal VOC, yaitu Pieter Both juga diberikan kewenangan untuk memutuskan perkara pidana yang terjadi di peradilan-peradilan adat.[8] Alasan VOC mencampuri urusan peradilan pidana adat ini disebabkan beberapa hal, antara lain: i) sistem pemidanaan yang dikenal dalam hukum pidana adat tidak memadai untuk dapat memaksakan kepada penduduknya agar mentaati peraturan-peraturan; ii) sistem peradilan pidana adat terkadang tidak mampu menyelesaikan perkara pidana yang terjadi karena permasalahan alat bukti; dan iii) adanya perbedaan pemahaman mengenai kejahatan dan pelanggaran antara hukum pidana adat dengan hukum pidana yang dibawa VOC. Sebagai contoh adalah suatu perbuatan yang menurut hukum pidana adat bukanlah dianggap sebagai kejahatan, namun menurut pendapat VOC perbuatan tersebut dianggap kejahatan, sehingga perlu dipidana yang setimpal.[9]
Bentuk campur tangan VOC dalam hukum pidana adat adalah terbentuknya Pepakem Cirebon yang digunakan para hakim dalam peradilan pidana adat. Pepakem Cirebon itu berisi antara lain mengenai sistem pemidanaan seperti pemukulan, cap bakar, dirantai, dan lain sebagainya. Pada tahun 1750 VOC juga menghimpun dan mengeluarkan Kitab Hukum Muchtaraer yang berisi himpunan hukum pidana Islam.[10]
Pada tanggal 31 Desember 1799, Vereenigde Oost Indische Compagnie dibubarkan oleh pemerintah Belanda dan pendudukan wilayah Nusantara digantikan oleh Inggris. Gubernur Jenderal Raflles yang dianggap sebagai gubernur jenderal terbesar dalam sejarah koloni Inggris di Nusantara tidak mengadakan perubahan-perubahan terhadap hukum yang telah berlaku. Dia bahkan dianggap sangat menghormati hukum adat.
b.    Masa Besluiten Regering (Tahun 1814-1855)
Setelah Inggris meninggalkan Nusantara pada tahun 1810, Belanda menduduki kembali wilayah Nusantara. Pada masa ini, peraturan terhadap koloni diserahkan kepada raja sepenuhnya sebagai penguasa mutlak, bukan kepada kongsi dagang sebagaimana terjadi pada masa VOC. Dengan dasar Besluiten Regering, yaitu berdasarkan Pasal 36 UUD Negeri Belanda, raja mempunyai kekuasaan mutlak dan tertinggi atas daerah-daerah jajahan. Dengan demikian ngara Belanda pada masa itu menggunakan sistem pemerintahan monarkhi konstitusional. Raja berkuasa mutlak, namun kekuasaannya diatur dalam sebuah konstitusi.
Untuk mengimplementasikannya, raja kemudian mengangkat komisaris jenderal yang ditugaskan untuk melaksanakan pemerintahan di Netherlands Indie (Hindia Belanda). Mereka adalah Elout, Buyskes, dan Van dr Capellen. Mereka tetap memberlakukan peraturan-peraturan yang yang berlaku pada masa Inggris dan tidak mengadakan perubahan peraturan karena menunggu terbentuknya kodifikasi hukum. Dalam usaha untuk mengisi kekosongan kas negara, maka Gubernur Jendral Du bus de Gisignes menerapkan politik agraria dengan cara napi yang sedang menjalani hukuman dipaksakan untuk kerja paksa (dwang arbeid).[11]
Dengan adanya keterangan ini maka praktis masa Besluiten Regering (BR) tidak memberlakukan hukum pidana baru. Namun demikian, beberapa peraturan perundang-undangan di luar hukum pidana ditetapkan pada masa ini, seperti Reglement op de Rechtilijke Organisatie (RO) atau Peraturan Organisasi Pengadilan (POP), Algemen Bepalingen van Wetgeving (AB) atau Ketentuan-ketentuan Umum tentang Perundang-undangan, Burgerlijk Wetboek (BW) atau Kitab Undang-undang Hukum Perdata, Wetboek van Koopenhandel (WvK) atau Kitab Undang-undang Hukum Dagang, dan Reglement op de Burgerlijke Rechtsvordering (RV) atau Peraturan tentang Acara Perdata.
c.    Masa Regering Reglement (1855-1926)
Masa Regering Reglement dimulai karena adanya perubahan sistem pemerintahan di negara Belanda, dari monarkhi konstitusional menjadi monarkhi parlementer. Perubahan ini terjadi pada tahun 1848 dengan adanya perubahan dalam Grond Wet (UUD) Belanda. Perubahan ini mengakibatkan terjadinya pengurangan kekuasaan raja, karena parlemen (Staten Generaal) mulai campur tangan dalam pemerintahan dan prundang-undangan di wilayah jajahan negara Belanda. Perubahan penting ini adalah dicantumkannya Pasal 59 ayat (1), (2), dan (4) yang berisi bahwa “Raja mempunyai kekuasaan tertinggi atas daerah jajahan dan harta kerajaan di bagian dari dunia. Aturan tentang kebijakan pemerintah ditetapkan melalui undang-undang. Sistem keuangan ditetapkan melalui undang-undang. Hal-hal lain yang menyangkut mengenai daerah-daerah jajahan dan harta, kalau diperlukan akan diatur dengan undang-undang”.[12]
Dengan ketentuan seperti ini tampak jelas bahwa kekuasaan raja Belanda terhadap daerah jajahan di Indonesia berkurang. Peraturan-peraturan yang menata daerah jajahan tidak semata-mata ditetapkan raja dengan Koninklijk Besluit, namun harus melalui mekanisme perundang-undangan di tingkat parlemen. Peraturan dasar yang dibuat bersama oleh raja dan parlemen untuk mengatur pemerintahan negara jajahan adalah Regeling Reglement (RR). RR ini berbentuk undang-undang dan diundangkan dengan Staatblad No. 2 Tahun 1855. Selanjutnya RR disebut sebagai UUD Pemerintah Jajahan Belanda.
Pada masa berlakunya Regeling Reglement ini, beberapa kodifikasi hukum pidana berhasil diundangkan, yaitu:
1.    Wetboek van Strafrecht voor Europeanen atau Kitab Undang-undang Hukum Pidana Eropa yang diundangkan dengan Staatblad No. 55 Tahun 1866.
2.    Algemene Politie Strafreglement atau tambahan Kitab Undang-undang Hukum Pidana Eropa.
3.    Wetboek van Strafrecht voor Inlander atau Kitab Undang-undang Hukum Pidana Pribumi yang diundangkan denbgan Staatblad No. 85 Tahun 1872.
4.    Politie Strafreglement bagi orang bukan Eropa.
5.    Wetboek van Strafrecht voor Netherlands-Indie atau Kitab Undang-undang Hukum Pidana Hindia Belanda yang diundangkan dengan Staatblad No. 732 Tahun 1915 dan mulai berlaku 1 Januari 1918.
d.    Masa Indische Staatregeling (1926-1942)
Indische Staatregeling (IS) adalah pembaharuan dari Regeling Reglement (RR) yang mulai berlaku sejak 1 Januari 1926 dengan diundangkan melaui Staatblad Nomor 415 Tahun 1925. Perubahan ini diakibatkan oleh perubahan pemerintahan Hindia Belanda yang berawal dari perubahan Grond Wet negera Belanda pada tahun 1922. Perubahan Grond Wet tahun 1922 ini mengakibatkan perubahan pada pemerintahan di Hindia Belanda. Berdasarkan Pasal 61 ayat (1) dan (2) IS, susunan negara Hindia Belanda akan ditentukan dengan undang-undang.
Pada masa ini, keberadaan sistem hukum di Indonesia semakin jelas khususnya dalam Pasal 131 jo. Pasal 163 IS yang menyebutkan pembagian golongan penduduk Indonesia beserta hukum yang berlaku. Dengan dasar ini maka hukum pidana Belanda (Wetboek van Strafrecht voor Netherlands-Indie) tetap diberlakukan kepada seluruh penduduk Indonesia. Pasal 131 jo. Pasal 163 Indische Staatregeling ini mempertegas pemberlakuan hukum pidana Belanda semenjak diberlakukan 1 Januari 1918.
e.    Masa Pendudukan Jepang (1942-1945)
Pada masa pendudukan Jepang selama 3,5 tahun, pada hakekatnya hukum pidana yang berlaku di wilayah Indonesia tidak mengalami perubahan yang signifikan. Pemerintahan bala tentara Jepang (Dai Nippon) memberlakukan kembali peraturan jaman Belanda dahulu dengan dasar Gun Seirei melalui Osamu Seirei.
Pertama kali, pemerintahan militer Jepang mengeluarkan Osamu Seirei Nomor 1 Tahun 1942. Pasal 3 undang-undang tersebut menyebutkan bahwa semua badan pemerintahan dan kekuasaannya, hukum dan undang-undang dari pemerintah yang dulu tetap diakui sah untuk sementara waktu, asalkan tidak bertentangan dengan pemerintahan militer. Dengan dasar ini maka dapat diketahui bahwa hukum yang mengatur pemerintahan dan lain-lain, termasuk hukum pidananya, masih tetap menggunakan hukum pidana Belanda yang didasarkan pada Pasal 131 jo. Psal 163 Indische Staatregeling. Dengan demikian, hukum pidana yang diberlakukan bagi semua golongan penduduk sama yang ditentukan dalam Pasal 131 Indische Staatregeling, dan golongan-golongan penduduk yang ada dalam Pasal 163 Indische Staatregeling.
Untuk melengkapi hukum pidana yang telah ada sebelumnya, pemerintahan militer Jepang di Indonesia mengeluarkan Gun Seirei nomor istimewa 1942, Osamu Seirei Nomor 25 Tahun 1944 dan Gun Seirei Nomor 14 Tahun 1942. Gun Seirei Nomor istimewa Tahun 1942 dan Osamu Seirei Nomor 25 Tahun 1944 berisi tentang hukum pidana umum dan hukum pidana khusus. Sedangkan Gun Seirei Nomor 14 Tahun 1942 mengatur tentang pengadilan di Hindia Belanda.
Pada masa ini, Indonesia telah mengenal dualisme hukum pidana karena wilayah Hindia Belanda dibagi menjadi dua bagian wilayah dengan penguasa militer yang tidak saling membawahi. Wilayah Indonesia timur di bawah kekuasaan Angkatan Laut Jepang yang berkedudukan di Makasar, dan wilayah Indonesia barat di bawah kekuasaan Angkatan Darat Jepang yang berkedudukan di Jakarta. Akibatnya, dalam berbagai hal terdapat perbedaan peraturan yang berlaku di masing-masing wilayah.[13]
3.    Masa Setelah Kemerdekaan
Masa pemberlakukan hukum pidana di Indonesia setelah proklamasi kemerdekaan 17 Agustus 1945, dibagi menjadi empat masa sebagaimana dalam sejarah tata hukum Indonesia yang didasarkan pada berlakunya empat konstitusi Indonesia, yaitu pertama masa pasca kemeredekaan dengan konstitusi UUD 1945, kedua masa setelah Indonesia menggunakan konstitusi negara serikat (Konstitusi Republik Indonesia Serikat), ketiga masa Indonesia menggunakan konstitusi sementara (UUDS 1950), dan keempat masa Indonesia kembali kepada UUD 1945.
a.    Tahun 1945-1949
Dengan diproklamirkannya negara Indonesia sebagai negara yang merdeka pada tanggal 17 Agustus 1945, bangsa Indonesia menjadi bangsa yang bebas dan berdaulat. Selain itu, proklamasi kemerdekaan dijadikan tonggak awal mendobrak sistem hukum kolonial menjadi sistem hukum nasional yang sesuai dengan jiwa dan kepribadian bangsa Indonesia. Bangsa Indonesia bebas dalam menentukan nasibnya, mengatur negaranya, dan menetapkan tata hukumnya. Konstitusi yang menjadi dasar dalam penyelenggaraan negara kemudian ditetapkan pada tanggal 18 Agustus 1945. Konstitusi itu adalah Undang Undang Dasar 1945.
Mewujudkan cita-cita bahwa proklamasi adalah awal pendobrakan sistem tata hukum kolonial menjadi sistem tata hukum nasional bukanlah hal yang mudah dan secara cepat dapat diwujudkan. Ini berarti bahwa membentuk sistem tata hukum nasional perlu pembicaraan yang lebih matang dan membutuhkan waktu yang lebih lama dari pada sekedar memproklamirkan diri sebagai bangsa yang merdeka. Oleh karena itu, untuk mengisi kekosongan hukum (rechts vacuum) karena hukum nasional belum dapat diwujudkan, maka UUD 1945 mengamanatkan dalam Pasal II Aturan Peralihan agar segala badan negara dan peraturan yang ada masih langsung berlaku, selama belum diadakan yang baru menurut Undang Undang Dasar ini.
Ketentuan ini menjelaskan bahwa hukum yang dikehendaki untuk mengatur penyelenggaraan negara adalah peraturan-peraturan yang telah ada dan berlaku sejak masa Indonesia belum merdeka. Sambil menunggu adanya tata hukum nasional yang baru, segala peraturan hukum yang telah diterapkan di Indonesia sebelum kemerdekaan diberlakukan sementara. Hal ini juga berarti funding fathers bangsa Indonesia mengamanatkan kepada generasi penerusnya untuk memperbaharui tata hukum kolonial menjadi tata hukum nasional.[14]
Presiden Sukarno selaku presiden pertama kali mengeluarkan kembali Peraturan Presiden Nomor 2 Tahun 1945 tangal 10 Oktober 1945 yang terdiri dari dua pasal, yaitu:
Pasal 1   :      Segala badan-badan negara dan peraturan-peraturan yang ada sampai berdirinya negara Republik Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945, sebelum diadakan yang baru menurut Undang Undang Dasar, masih tetap berlaku asal saja tidak bertentangan dengan dengan Undang Undang Dasar tersebut.
Pasal 2   :      Peraturan ini mulai berlaku tanggal 17 Agustus 1945.
Sekilas ini Penpres ini hampir sama dengan Pasal II Aturan Peralihan UUD 1945, namun dalam Penpres ini dengan tegas dinyatakan tanggal pembatasan yaitu 17 Agustus 1945.
Sebagai dasar yuridis pemberlakuan hukum pidana warisan kolonial sebagai hukum pidana positif di Indonesia, keluarlah UU Nomor 1 Tahun 1946 tentang Peraturan Hukum Pidana. Pasal 1 undang-undang tersebut secara tegas menyatakan:
Dengan menyimpang seperlunya dari Peraturan Presiden Republik Indonesia tertanggal 10 Oktober 1945 Nomor 2 menetapkan bahwa peraturan-peraturan hukum pidana yang berlaku sekarang adalah peraturan-peraturan hukum pidana yang ada pada tanggal 8 Maret 1942.[15]
Dengan titik tonggak waktu penyerahan kekuasaan Belanda kepada Jepang atas wilayah Indonesia ini berarti semua peraturan hukum pidana yang dikeluarkan oleh pemerintahan militer Jepang dan yang dikeluarkan oleh panglima tertinggi bala tentara Hindia Belanda (NICA) setelah tanggal 8 Maret 1942 dengan sendirinya tidak berlaku. Pasal 2 undang-undang tersebut juga dinyatakan bahwa semua peraturan hukum pidana yang dikeluarkan panglima tertinggi bala tentara Hindia Belanda dicabut. Pasal 2 ini diperlukan karena sebelum tanggal 8 Maret 1942 panglima tertinggi bala tentara Hindia Belanda mengeluarkan Verordeningen van het militer gezag.
Secara lengkap bunyi Pasal 2 UU Nomor 1 Tahun 1946 adalah sebagai berikut.
Semua peraturan hukum pidana yang dikeluarkan panglima tertinggi bala tentara Hindia Belanda dulu (Verordeningen van het militer gezag) dicabut.[16]
Pemberlakuan hukum pidana Indonesia dengan ditetapkannya UU Nomor 1 Tahun 1946 tentang Peraturan Hukum Pidana ternyata belum menjawab persoalan. Kenyataan ini disebabkan karena perjuangan fisik bangsa Indonesia atas penjahahan Belanda belum selesai. Secara de jure memang Indonesia telah memproklamirkan diri sebagai bangsa yang merdeka, namun secara de facto penjajahan Belanda atas Indonesia masih saja berkelanjutan. Melalui aksi teror yang dilancarkan oleh NICA Belanda maupun negara-negara boneka yang berhasil dibentuknya, Belanda sebenarnya belum selesai atas aksi kolonialismenya di Indonesia. Bahkan pada tanggal 22 September 1945, Belanda mengeluarkan kembali aturan pidana yang berjudul Tijdelijke Biutengewonge Bepalingen van Strafrecht (Ketentuan-ketentuan Sementara yang Luar Biasa Mengenai Hukum Pidana) dengan Staatblad Nomor 135 Tahun 1945 yang mulai berlaku tanggal 7 Oktober 1945. Ketentuan ini antara lain mengatur tentang diperberatnya ancaman pidana untuk tindak pidana yang menyangkut ketatanegaraan, keamanan dan ketertiban, perluasan daerah berlakunya pasal-pasal tertentu dalam KUHP, serta dibekukannya Pasal 1 KUHP agar peraturan ini dapat berlaku surut. Nampak jelas bahwa maksud ketentuan ini untuk memerangi pejuang kemerdekaan.
Dengan adanya dua peraturan hukum pidana yang diberlakukan di Indonesia oleh dua “penguasa” yang bermusuhan ini, maka munculah dua hukum pidana yang diberlakukan bersama-sama di Indonesia. Oleh para ahli hukum pidana, adanya dua hukum pidana ini disebut masa dualisme KUHP.[17]
b.    Tahun 1949-1950
Tahun 1949-1950 negara Indonesia menjadi negara serikat, sebagai konsekuensi atas syarat pengakuan kemerdekaan dari negara Belanda. Dengan perubahan bentuk negara ini, maka UUD 1945 tidak berlaku lagi dan diganti dengan Konstitusi Republik Indonesia Serikat. Sebagai aturan peralihannya, Pasal 192 Konstitusi RIS menyebutkan:
Peraturan-peraturan undang-undang dan ketentuan-ketentuan tata usaha yang sudah ada pada saat Konstitusi ini mulai berlaku, tetap berlaku dengan tidak berubah sebagai peraturan-peraturan dan ketentuan-ketntuan Republik Indonesia Serikat sendiri, selama dan sekadar peraturan-peraturan dan ketentuan-ketentuan itu tidak dicabut, ditambah atau diubah oleh undang-undang dan ketentuan-ketentuan tata usaha atas kuasa Konstitusi ini.[18]
Dengan adanya ketentuan ini maka praktis hukum pidana yang berlaku pun masih tetap sama dengan dahulu, yaitu Wetboek van Strafrecht yang berdasarkan Pasal 6 ayat (2) UU Nomor 1 Tahun 1946 dapat disebut sebagai Kitab Undang-undang Hukum Pidana. Namun demikian, permasalahan dualisme KUHP yang muncul setelah Belanda datang kembali ke Indonesia setelah kemerdekaan masih tetap berlangsung pada masa ini.
c.    Tahun 1950-1959
Setelah negara Indonesia menjadi negara yang berbentuk negara serikat selama 7 bulan 16 hari, sebagai trik politik agar Belanda mengakui kedaulatan Indonesia, maka pada tanggal 17 Agustus 1950 Indonesia kembali menjadi negara republik-kesatuan. Dengan perubahan ini, maka konstitusi yang berlaku pun berubah yakni diganti dengan UUD Sementara.
Sebagai peraturan peralihan yang tetap memberlakukan hukum pidana masa sebelumnya pada masa UUD Sementara ini, Pasal 142 UUD Sementara menyebutkan:
Peraturan-peraturan undang-undang dan ketentuan-ketentuan tata usaha yang sudah ada pada tanggal 17 Agustus 1050, tetap berlaku dengan tidak berubah sebagai peraturan-peraturan dan ketentuan-ketntuan Republik Indonesia sendiri, selama dan sekedar peraturan-peraturan dan ketentuan-ketentuan itu tidak dicabut, ditambah atau diubah oleh undang-undang dan ketentuan-ketentuan tata usaha atas kuasa Undang Undang Dasar ini.[19]
Dengan adanya ketentuan Pasal 142 UUD Sementara ini maka hukum pidana yang berlaku pun masih tetap sama dengan masa-masa sebelumnya, yaitu Wetboek van Strafrecht (Kitab Undang-undang Hukum Pidana). Namun demikian, permasalahan dualime KUHP yang muncul pada tahun 1945 sampai akhir masa berlakunya UUD Sementara ini diselesaikan dengan dikeluarkannya UU Nomor 73 Tahun 1958 tentang Menyatakan Berlakunya UU Nomor 1 Tahun 1946 tentang Peraturan Hukum Pidana untuk Seluruh Wilayah Republik Indonesia dan Mengubah Undang-undang Hukum Pidana. Dalam penjelasan undang-undang tersebut dinyatakan:
“Adalah dirasakan sangat ganjil bahwa hingga kini di Indonesia masih berlaku dua jenis Kitab Undang-undang Hukum Pidana, yakni Kitab Undang-undang Hukum Pidana menurut UU Nomor 1 Tahun 1946 dan Wetboek Strafrecht voor Indonesia (Staatblad 1915 Nomor 732 seperti beberapa kali diubah), yang sama sekali tidak beralasan. Dengan adanya undang-undang ini maka keganjilan itu ditiadakan. Dalam Pasal 1 ditentukan bahwa UU Nomor 1 Tahun 1946 dinyatakan berlaku untuk seluruh wilayah Republik Indonesia.”
Dengan demikian, permasalahan dualisme KUHP yang diberlakukan di Indonesia dianggap telah selesai dengan ketetapan bahwa UU Nomor 1 Tahun 1946 tentang Peraturan Hukum Pidana dinyatakan berlaku untuk seluruh wilayah Republik Indonesia.
 
d.    Tahun 1959-sekarang
Setelah keluarnya Dekrit Presiden tanggal 5 Juli 1959, yang salah satunya berisi mengenai berlakunya kembali UUD 1945, maka sejak itu Indonesia menjadi negara kesatuan yang berbentuk republik dengan UUD 1945 sebagai konstitusinya. Oleh karena itu, Pasal II Aturan Peralihan yang memberlakukan kembali aturan lama berlaku kembali, termasuk di sini hukum pidananya. Pemberlakuan hukum pidana Indonesia dengan dasar UU Nomor 1 Tahun 1946 pun kemudian berlanjut sampai sekarang.
Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa walaupun Indonesia telah mengalami empat pergantian mengenai bentuk negara dan konstitusi, ternyata sumber utama hukum pidana tidak mengalami perubahan, yaitu tetap pada Wetboek van Strafrecht (Kitab Undang-undang Hukum Pidana) walaupun pemberlakuannya tetap mendasarkan diri pada ketentuan peralihan pada masing-masing konstitusi.
C.   Sejarah Kitab Undang-Undang Hukum Pidana Indonesia (Wetboek van Strafrecht)
Induk peraturan hukum pidana Indonesia adalah Kitab Undang-undang Hukum Pidana (KUHP). KUHP ini mempunyai nama asli Wetboek van Strafrecht voor Nederlandsch Indie (WvSNI) yang diberlakukan di Indonesia pertama kali dengan Koninklijk Besluit (Titah Raja) Nomor 33 15 Oktober 1915 dan mulai diberlakukan sejak tanggal 1 Januari 1918. WvSNI merupakan turunan dari WvS negeri Belanda yang dibuat pada tahun 1881 dan diberlakukan di negara Belanda pada tahun 1886.[20] Walaupun WvSNI notabene turunan (copy) dari WvS Belanda, namun pemerintah kolonial pada saat itu menerapkan asas konkordansi (penyesuaian) bagi pemberlakuan WvS di negara jajahannya. Beberapa pasal dihapuskan dan disesuaikan dengan kondisi dan misi kolonialisme Belanda atas wilayah Indonesia.
Jika diruntut lebih ke belakang, pertama kali negara Belanda membuat perundang-undangan hukum pidana sejak tahun 1795 dan disahkan pada tahun 1809 pada saat pemerintahan Lodewijk Napoleon. Kodifikasi hukum pidana nasional pertama ini disebut dengan Crimineel Wetboek voor Het Koninkrijk Holland. Namun baru dua tahun berlaku, pada tahun 1811 Perancis menjajah Belanda dan memberlakukan Code Penal (kodifikasi hukum pidana) yang dibuat tahun 1810 saat Napoleon Bonaparte menjadi penguasa Perancis. Pada tahun 1813, Perancis meninggalkan negara Belanda. Namun demikian negara Belanda masih mempertahankan Code Penal itu sampai tahun 1886.[21]
Setelah perginya Perancis pada tahun 1813, Belanda melakukan usaha pembaharuan hukum pidananya (Code Penal) selama kurang lebih 68 tahun (sampai tahun 1881). Selama usaha pembaharuan hukum pidana itu, Code Penal mengalami bebarapa perubahan, terutama pada ancaman pidananya. Pidana penyiksaan dan pidana cap bakar yang ada dalam Code Penal ditiadakan dan diganti dengan pidana yang lebih lunak. Pada tahun 1881, Belanda mengesahkan hukum pidananya yang baru dengan nama Wetboek van Strafrecht sebagai pengganti Code Penal Napoleon dan mulai diberlakukan lima tahun kemudian, yaitu pada tahun 1886.
Sebelum negara Belanda mengesahkan Wetboek van Strafrecht sebagai pengganti Code Penal Napoleon pada tahun 1886, di wilayah Hindia-Belanda sendiri ternyata pernah diberlakukan Wetboek van Strafrecht voor Europeanen (Kitab Undang-undang Hukum Pidana Eropa) dengan Staatblad Tahun 1866 Nomor 55 dan dinyatakan berlaku sejak 1 Januari 1867. Bagi masyarakat bukan Eropa diberlakukan Wetboek van Strafrecht voor Inlander (Kitab Undang-undang Hukum Pidana Pribumi) dengan Staatblad Tahun 1872 Nomor 85 dan dinyatakan berlaku sejak 1 Januari 73.[22]
Dengan demikian, dapat dinyatakan bahwa pada masa itu terdapat juga dualisme hukum pidana, yaitu hukum pidana bagi golongan Eropa dan hukum pidana bagi golongan non-Eropa. Kenyataan ini dirasakan Idenburg (Minister van Kolonien) sebagai permasalahan yang harus dihapuskan. Oleh karena itu, setelah dua tahun berusaha pada tahun 1915 keluarlah Koninklijk Besluit (Titah Raja) Nomor 33 15 Oktober 1915 yang mengesahkan Wetboek van Strafrecht voor Netherlands Indie dan berlaku tiga tahun kemudian yaitu mulai 1 Januari 1918.
Dengan gambaran sejarah demikian, runtutan sejarah terbentuknya Kitab Undang-undang Hukum Pidana Indonesia dapat dilustrasikan dalam bagan berikut.


Tahun
Peristiwa
Selisih Waktu
1810
Code Penal diberlakukan di Perancis
1 tahun
1811
Code Penal diberlakukan di Belanda
56 tahun
1867
Wetboek van Strafrecht voor Europeanen berlaku di Hindia-Belanda
6 tahun
1873
Wetboek van Strafrecht voor Inlander diberlakukan di Hindia-Belanda
8 tahun
1881
Wetboek van Strafrecht disahkan di Belanda
5 tahun
1886
Wetboek van Strafrecht diberlakukan di Belanda
29 tahun
1915
Wetboek van Strafrecht Netherlands-Indie disahkan untuk Hindia-Belanda
3 tahun
1918
Wetboek van Strafrecht Netherlands-Indie diberlakukan di Hindia-Belanda
28 tahun
1946
Wetboek van Strafrecht Netherlands-Indie disebut sebagai KUHP Indonesia



Total selisih waktu 136 tahun

D.   Problematika Penerapan Kitab Undang-undang Hukum Pidana Indonesia (Wetboek van Strafrecht)
Seperti yang telah dipaparkan di atas bahwa hukum pidana Indonesia merupakan warisan hukum kolonial ketika Belanda melakukan penjajahan atas Indonesia. Jika Indonesia menyatakan dirinya sebagai bangsa yang merdeka sejak 17 Agustus 1945, maka selayaknya hukum pidana Indonesia adalah produk dari bangsa Indonesia sendiri. Namun idealisme ini ternyata tidak sesuai dengan realitasnya. Hukum pidana Indonesia sampai sekarang masih mempergunakan hukum pidana warisan Belanda. Secara politis dan sosiologis, pemberlakuan hukum pidana kolonial ini jelas menimbulkan problem tersendiri bagi bangsa Indonesia. Problematika tersebut antara lain sebagai berikut.
1.    Kemerdekaan Indonesia yang telah diproklamirkan sejak 59 tahun lalu merupakan awal pendobrakan hukum kolonial menjadi hukum yang bersifat nasional. Namun pada realitasnya, hukum pidana positif (KUHP) Indonesia merupakan warisan kolonial Belanda. Secara politis ini menimbulkan masalah bagi bangsa yang merdeka.[23] Dengan kata lain, walaupun Indonesia merupakan negara merdeka, namun hukum pidana Indonesia belum bisa melepaskan diri dari penjajahan.
2.    Wetboek van Strafrecht atau bisa disebut Kitab Undang-undang Hukum Pidana telah diberlakukan di Indonesia sejak tahun 1918. Ini berarti KUHP telah berumur lebih dari 87 tahun. Jika umur KUHP dihitung sejak dibuat pertama kali di Belanda (tahun 1881), maka KUHP telah berumur lebih dari 124 tahun. Oleh karena itu, KUHP dapat dianggap telah usang dan sangat tua, walaupun Indonesia sendiri telah beberapa kali merubah materi KUHP ini. Namun demikian, perubahan ini tidak sampai kepada masalah substansial dari KUHP tersebut. KUHP Belanda sendiri pada saat ini telah banyak mengalami perkembangan.[24]
3.    Wujud asli hukum pidana Indonesia adalah Wetboek van Strafrecht yang menurut UU Nomor 1 Tahun 1946 bisa disebut dengan KUHP. Hal ini menandakan bahwa wujud asli KUHP adalah berbahasa Belanda.[25] KUHP yang beredar di pasaran adalah KUHP yang diterjemahkan dari bahasa Belanda oleh beberapa pakar hukum pidana, seperti terjemahan Mulyatno, Andi Hamzah, Sunarto Surodibroto, R. Susilo, dan Badan Pembinaan Hukum Nasional. Tidak ada teks resmi terjemahan Wetboek van Strafrecht yang dikeluarkan oleh negara Indonesia. Oleh karena itu, sangat mungkin dalam setiap terjemahan memiliki redaksi yang berbeda-beda.[26]
4.    KUHP warisan kolonial Belanda memang memiliki jiwa yang berbeda dengan jiwa bangsa Indonesia. KUHP warisan zaman Hindia Belanda ini berasal dari sistem hukum kontinental (Civil Law System) atau menurut Rene David disebut dengan the Romano-Germanic Family. The Romano Germanic family ini dipengaruhi oleh ajaran yang menonjolkan aliran individualisme dan liberalisme (individualism, liberalism, and individual right)[27]. Hal ini sangat berbeda dengan kultur bangsa Indonesia yang menjunjung tinggi nilai-nilai sosial. Jika kemudian KUHP ini dipaksakan untuk tetap berlaku, benturan nilai dan kepentingan yang muncul tidak mustahil justru akan menimbulkan kejahatan-kejahatan baru.
5.    Jika KUHP dilihat dari tiga sisi masalah dasar[28] dalam hukum pidana, yaitu pidana, tindak pidana, dan pertanggungjawaban pidana, maka masalah-masalah dalam KUHP antara lain:
       a.     Pidana
              KUHP tidak menyebutkan tujuan dan pedoman pemidanaan bagi hakim atau penegak hukum yang lain, sehingga arah pemidanaan tidak tertuju kepada tujuan dan pola yang sama. Pidana dalam KUHP juga bersifat kaku dalam arti tidak dimungkinkannya modifikasi pidana yang didasarkan pada perubahan atau perkembangan diri pelaku. Sistem pemidanaan dalam KUHP juga lebih kaku sehingga tidak memberi keleluasaan bagi hakim untuk memilih pidana yang tepat untuk pelaku tindak pidana. Sebagai contoh mengenai jenis-jenis pidana, pelaksanaan pidana pidana mati,[29] pidana denda,[30] pidana penjara,[31] dan pidana bagi anak.
       b.    Tindak pidana
              Dalam menetapkan dasar patut dipidananya perbuatan, KUHP bersifat positifis dalam arti harus dicantumkan dengan undang-undang (asas legalitas formil). Dengan demikian, KUHP tidak memberikan tempat bagi hukum yang hidup di tengah-tengah masyarakat yang tidak tertulis dalam perundang-undangan.[32] Di samping itu, KUHP menganut pada Daadstrafrecht yaitu hukum pidana yang berorientasi pada perbuatan. Aliran ini pada sekarang sudah banyak ditinggalkan, karena hanya melihat dari aspek perbuatan (Daad) dan menafikan aspek pembuat (Dader).[33] KUHP masih menganut pada pembedaan kejahatan dan pelanggaran yang sekarang telah ditinggalkan. Tindak pidana-tindak pidana yang muncul di era modern ini, seperti money laundering, cyber criminal, lingkungan hidup, dan beberapa perbuatan yang menurut hukum adat dianggap sebagai tindak pidana belum tercover di dalam KUHP. Oleh karena itu, secara sosiologis KUHP telah ketinggalan zaman dan sering tidak sesuai dengan nilai-nilai yang hidup di masyarakat.
       c.     Pertanggungjawaban pidana
              Beberapa masalah yang muncul dalam aspek pertanggungjawaban pidana ini antara lain mengenai asas kesalahan (culpabilitas) yang tidak dicantumkan secara tegas dalam KUHP, namun hanya disebutkan dalam Memorie van Toelichting (MvT) sebagai penjelasan WvS.[34] Asas culpabilitas merupakan penyeimbang dari asas legalitas yang dicantumkan dalam Pasal 1 ayat (1), yang berarti bahwa seseorang dapat dipidana karena secara obyektif memang telah melakukan tindak pidana (memenuhi rumusan asas legalitas) dan secara subyektif terdapat unsur kesalahan dalam diri pelaku (memenuhi rumusan asas culpabilitas). Masalah lainnya adalah masalah yang terkait dengan pertanggungjawaban pidana anak. Anak di dalam KUHP (Pasal 45-47) adalah mereka yang berumur di bawah 16 tahun. Pasal-pasal tersebut tidak mengatur secara rinci tentang aturan pemidanaan bagi anak. Pasal 45 hanya menyebutkan beberapa alternatif yang dapat diambil oleh hakim jika terdakwanya adalah anak di bawah umur 16 tahun.[35] Selain itu, KUHP tidak menyebutkan pertanggungjawaban pidana korporasi.[36] Pada dataran realitas, sering kali beberapa tindak pidana terkait dengan korporasi seperti pencemaran lingkungan.

E.   Penutup
Memperhatikan pembahasan tentang sejarah dan problematika hukum pidana Indonesia di atas, pembaharuan hukum pidana Indonesia adalah sebuah keharusan yang tidak bisa ditawar-tawar lagi. Problematika yang muncul terkait dengan usangnya KUHP secara internal dan berkembangnya persoalan-persoalan di tengah-tengah kehidupan masyarakat secara eksternal menambah dorongan yang kuat dari masyarakat untuk menuntut kepada negara agar segera merealisasikan kodifikasi hukum pidana yang bersifat nasional sebagai hasil jerih payah dan pemikiran bangsa Indonesia sendiri. Oleh karena itu, RUU KUHP yang sudah kesekian kalinya direvisi selayaknya segera dibahas oleh lembaga legislatif untuk disahkan.

---daftar pustaka dan footnote sengaja tidak ditampilkan---


* Dosen Fakultas Syari’ah Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga Yogyakarta.
[1] 
[2] 
[3] 
[4] Dalam laporan penelitian yang dilakukan oleh Lembaga Pembinaan Hukum Nasional (LPHN), tentang "Pengaruh Agama terhadap Hukum Pidana", beberapa hukum adat di wilayah Nusantara masih terkait dengan agama yang dianut mayoritas masyarakat adatnya. 
[5] 
[6] 
[7] 
[8] 
[9] 
[10] 
[11] 
[12] 
[13] 
[14] Segala perubahan membawa konsekuensi bahwa isi kehendak itu perlu diubah. Ketentuan-ketentuan hukum positif yang pernah berlaku di Indonesia, seperti Indische Staatregeling, Algemene Bepalingen van Wetgeving, Burgerlijk Wetboek, Wetboek van Koophandel, Wetboek van Strafrecht dan segala peraturan yang dikeluarkan pada masa penjajahan, dengan adanya proklamasi kemerdekaan dituntut penggantiannya secara tepat dan cepat. Oleh karena itu maka ditetapkan segera landasan tata hukum yang baru, yaitu Undang Undang Dasar 1945. 
[15] 
[16] 
[17] Sudarto menyebut istilah ini dengan kwasi-dualisme. 
[18] 
[19] 
[20] 
[21] 
[22] 
[23] 
[24] Perubahan dalam KUHP Belanda antara lain dalam principal penalties (pidana pokok) yang menghilangkan pidana mati dan menambahkan pidana kerja sosial serta denda yang dibuat dengan kategorisasi.
[25] 
[26] Dalam pandangan peneliti, kecuali KUHP terjemahan BPHN, KUHP terjemahan Mulyatno, R. Susilo dan yang lain terkadang belum mencantumkan beberapa perubahan parsial dalam KUHP, seperti jenis pidana ditambahkan pidana tutupan, pengkalian 15 kali untuk pidana denda, dan perluasan wilayah berlakunya hukum pidana menurut tempat. Di samping itu, terdapat juga perbedaan dalam menerjemahkan suatu istilah, seperti overspel yang diterjemahkan menjadi beberapa kata, seperti zina, mukah, dan gendak. Yang lebih fatal lagi adalah ancaman pidana pada Pasal 386 tentang pemerasan. Di dalam KUHP versi BPHN dan terjemahan dari Engelbrecht, ancaman pidananya 9 bulan, sedangkan dalam KUHP versi Mulyatno dan R. Susilo ancaman pidananya 9 tahun. KUHP aslinya (WvS) yang berbahasa Belanda menyebutnya dengan "jaren" yang berarti "tahun". 
[27] 
[28] 
[29] Di hukum pidana beberapa negara, seperti Venezuela, Columbia, Rumania, Brazilia, Costarica, Uruguay, Chili, Denmark, dan Belanda sendiri, pidana mati telah dihapuskan karena dianggap tidak sesuai dengan tujuan pemidanaan berupa pembinaan kepada pelaku kejahatan. Dalam KUHP Indonesia, pidana mati dianggap masih diperlukan namun pelaksanaannya belum manusiawi karena tetap dianggap sebagai sebuah "harga mati" walaupun terpidana telah menanti eksekusi selama puluhan tahun. 
[30] Masalah pidana denda dalam KUHP terutama terkait dengan jumlah denda yang sangat minim, karena penyesuaian kurs pidana denda terakhir kali dilakukan dengan UU Nomor 18 Prp Tahun 1960. Sebagai contoh adalah ketentuan tentang pidana kurungan pengganti denda. Dalam KUHP, persamaan pidana denda dengan pidana kurungan adalah Rp. 7,50 (tujuh, lima puluh rupiah) disamakan dengan 1 hari kurungan.
[31] 
[32] Permasalahan seperti ini sedikit terobati dengan dikenalnya asas legalitas materiel yang mengakui adanya nilai-nilai yang hidup di masyarakat dalam perundang-undangan seperti UU Drt Nomor 1 Tahun 1951 dan UU Nomor 14 Tahun 1970 tentang Kekuasaan Kehakiman. 
[33] 
[34] 
[35] Terkait dengan kesepakatan internasional yang diselenggarakan oleh United Nations di Beijing tahun 1985 tentang Standard Minimum Rules for The Administration of Juvenile Justice (Beijing Rules) yang salah satu materinya mengatur tentang pertanggungjawaban pidana anak (age of criminal responsibility) agar tidak ditentukan terlalu rendah dengan mempertimbangkan kematangan emosional, mental dan intelektual, Indonesia mengeluarkan UU Nomor 3 Tahun 1997 tentang Peradilan Anak. Menurut UU ini anak yang masih berumur 8 s.d. 12 tahun hanya dapat dikenakan tindakan, dan anak yang berumur 12 s.d. 18 tahun dapat dijatuhi pidana. Sedangkan anak yang belum berumur 8 tahun dianggap belum mampu mempertanggungjawabkan perbuatannya. Dengan demikian, secara otomatis ketentuan pertanggungjawaban pidana anak dalam KUHP tersebut dihapuskan dengan UU Peradilan Anak ini. 
[36] 

Senin, 05 September 2005

Sholat Sunat Tarawih


Oleh: Ahmad Bahiej

Seperti yang telah dibahas pada makalah sebelumnya bahwa sholat sunnat dibagi menjadi dua yaitu sholat sunnat rowatib dan sholat sunnat ghoiru rowatib. Sholat sunnat ghoiru rowatib (sholat sunnat yang tidak mengikuti sholat wajib) berjumlah banyak, namun secara garis besar dibagi menjadi dua golongan, yaitu:

1).   yang disunatkan secara berjama’ah, seperti sholat sunnat tarawih, kusuf (gerhana matahari), khusuf (gerhana bulan), dan istisqo’ (sholat sunnat meminta hujan).
2).  yang tidak disunnatkan secara berjama’ah, seperti sholat sunnat witir, dluha, tahajud, hajat, tasbih, tahiyatul masjid, awwabin, syukril wudlu, taubat, safar, mutlaq, dan istikhoroh.

A.   Sholat Sunnat Tarowih
          Kata tarowih berasal dari kata kerja roha yang bermakna “istirahat”. Bentuk kata tarowih adalah lafdz jama’  yang menunjukkan arti banyak (lebih dari dua). Dalam sholat sunnat tarawih memang ditemui “banyak istirahat” yaitu berupa duduk istirahat di antara rokaat-rokaat sholat tarawih. Pada jaman Nabi Muhammad SAW, sebenarnya tidak ada nama sholat tarowih itu. Dalam hadis hanya disebutkan sholat sunat Romadlon (qiyamu Romadlon), seperti dalam hadis berikut:
مَنْ قَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ  (رواه البخارى)
Barangsiapa mendirikan sholat di bulan Romadlon, dengan penuh iman dan keikhlasan, maka dosa-dosanya yang telah lalu diampuni oleh Allah. HR Bukhari.
Di dalam kitab-kitab hadis pun, tidak disebut adanya nama “tarowih” itu. Oleh karena itu, dapat disimpulkan bahwa kata “tarowih” muncul setelah berkembangnya ilmu fiqh sebagai pengembangan dari syari’at Islam (al-Qur’an dan Hadis).
          Pada jaman Nabi Muhammad SAW, sholat sunnat tarowih hanya dilakukan Nabi beberapa hari. Beliau bersama para sahabatnya melakukan sholat qiyamu Romadlon pada hari pertama, kedua, dan ketiga (dalam keterangan hadis, hari pertama, kedua, dan ketiga itu adalah tanggal 23, 25, dan 27 Romadlon). Pada hari keempat, masjid telah penuh sesak jama’ah dan Nabi tidak menampakkan diri ke masjid, karena Nabi khawatir bahwa sholat qiyamu Romadlon dianggap wajib/fardhu oleh kaum muslimin. Hadis riwayat Bukhari menceritakan kejadian tersebut:
كَانَ رَسُولُ الله صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُصَلِّي مِنْ اللَّيْلِ فِي حُجْرَتِهِ وَجِدَارُ الْحُجْرَةِ قَصِيرٌ فَرَأَى النَّاسُ شَخْصَ النَّبِيِّ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَامَ أُنَاسٌ يُصَلُّونَ بِصَلاَتِهِ فَأَصْبَحُوا فَتَحَدَّثُوا بِذَلِكَ فَقَامَ اللَّيْلَةَ الثَّانِيَةَ فَقَامَ مَعَهُ أُنَاسٌ يُصَلُّونَ بِصَلاَتِهِ صَنَعُوا ذَلِكَ لَيْلَتَيْنِ أَوْ ثَلاَثًا حَتَّى إِذَا كَانَ بَعْدَ ذَلِكَ جَلَسَ رَسُولُ الله صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَلَمْ يَخْرُجْ فَلَمَّا أَصْبَحَ ذَكَرَ ذَلِكَ النَّاسُ فَقَالَ إِنِّي خَشِيتُ أَنْ تُكْتَبَ عَلَيْكُمْ صَلاَةُ اللَّيْلِ (رواه البخارى)
          Rasulullah sholat pada malam (bulan Romadlon) di kamarnya. Para sahabat (karena) melihat diri Nabi sholat, maka mereka mengikuti sholat. Pagi harinya, mereka menceritakan hal itu (tentang sholat malam Romadlon). Pada malam kedua, Nabi sholat lagi dan para sahabat mengikutinya lagi (Jawa: melu-melu). Mereka melakukannya pada dua malam atau tiga malam. Setelah itu, Nabi duduk dan tidak keluar lagi (maksudnya: tidak melakukan sholat malam Romadlon lagi, -pen.). Pagi harinya, para sahabat mempertanyakan itu dan Nabi menjawab, “Sungguh aku khawatir, jangan-jangan kalian mewajibkannya”. HR Bukhari.
          Setelah wafatnya Nabi, kaum Muslimin di Madinah masih terus-menerus melakukan sholat tarawih secara sendirian maupun secara berjama’ah dengan imam dari sahabat Nabi yang dipandang senior. Hal ini berlanjut sampai pada kekhalifahan Umar bin Khottob r.a. Khalifah Umar kemudian berkata, “Jika kalian melakukan sholat tarawih secara berjama’ah dengan seorang imam, tentulah lebih baik”. Dengan adanya usulan ini, kaum muslimin bersatu mengadakan sholat tarowih berjama’ah di Masjid Nabawi Madinah, sebagaimana Nabi mengimami para sahabat selama tiga hari  di masa hidupnya. Sahabat Umar r.a kemudian berkata, “Sebaik-baik bid’ah adalah ini (tarowih dengan berjama’ah)”. Hadis riwayat Bukhori menceritakan hal ini.
عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ عَبْدٍ الْقَارِيِّ أَنَّهُ قَالَ خَرَجْتُ مَعَ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ رَضِيَ الله عَنْهُ لَيْلَةً فِي رَمَضَانَ إِلَى الْمَسْجِدِ فَإِذَا النَّاسُ أَوْزَاعٌ مُتَفَرِّقُونَ يُصَلِّي الرَّجُلُ لِنَفْسِهِ وَيُصَلِّي الرَّجُلُ فَيُصَلِّي بِصَلاَتِهِ الرَّهْطُ فَقَالَ عُمَرُ إِنِّي أَرَى لَوْ جَمَعْتُ هَؤُلاََءِ عَلَى قَارِئٍ وَاحِدٍ لَكَانَ أَمْثَلَ ثُمَّ عَزَمَ فَجَمَعَهُمْ عَلَى أُبَيِّ بْنِ كَعْبٍ ثُمَّ خَرَجْتُ مَعَهُ لَيْلَةً أُخْرَى وَالنَّاسُ يُصَلُّونَ بِصَلاَةِ قَارِئِهِمْ قَالَ عُمَرُ نِعْمَ الْبِدْعَةُ هَذِهِ وَالَّتِي يَنَامُونَ عَنْهَا أَفْضَلُ مِنْ الَّتِي يَقُومُونَ يُرِيدُ آخِرَ اللَّيْلِ وَكَانَ النَّاسُ يَقُومُونَ أَوَّلَهُ  (رواه البخارى)
          Abdurrahman bin ‘Abd al-Qori berkata, “Saya keluar menuju masjid bersama Umar bin Khottob pada suat malam di bulan Romadlon. Sahabat lain yang telah berada di masjid melakukan sholat secara sendiri-sendiri. Umar kemudian berkata, ”Aku berpendapat, jika mereka aku kumpulkan pada imam yang satu, itu maka lebih baik.” Umar kemudian mengumpulkan mereka kepada Ubay bin Ka’ab. Pada malam yang lain saya (Abdurrahman bin ‘Abd al-Qori) keluar bersama Umar, para sahabat sedang sholat berjama’ah bersama imamnya, Umar bin Khottob berkata,”Ini adalah sebaik-baiknya bid’ah dan lebih baik jika mereka melakukannya di akhir malam”. HR Bukhari.
          Mengikuti pendapat sahabat Umar tersebut, sampai sekarang pun di seantero dunia sholat sunnat tarowih dilakukan secara berjama’ah di masjid. Kekhawatiran Nabi pada saat itu dimaklumi karena masih barunya syari’ah Islam. Namun semenjak jaman Khalifah Umar bin Khottob r.a. sampai sekarang, umat Islam telah mampu membedakan antara yang sunnat dan yang wajib. Oleh karena itu, pelaksanaan sholat sunnat tarowih secara berjama’ah dapat digunakan untuk mensyi’arkan agama Islam selama bulan Romadlon yang penuh rahmat. Bagi pribadi muslim pun akan lebih ringan melakukannya karena sholat dilakukan secara bersama-sama.
          Dalam hal jumlah rokaat sholat sunnat tarowih, terdapat beberapa perbedaan pandangan. Perbedaan ini muncul telah lama, bahkan semenjak Kholifah Umar bin Abdul Aziz r.a. Penyebab adanya perbedaan ini karena tidak adanya dalil hadis Nabi yang kuat dan secara tegas menyebutkan angka rokaat sholat sunnat tarowih. Akibat tidak adanya hadis yang dipandang secara regas menyebutkan angka rokaat sholat sunnat tarowih itu, maka muncul beberapa penafsiran dengan dasar hukum (dalil) yang berbeda-beda. Hadis-hadis tentang qiyamu Ramadlon riwayat Imam Bukhari (sebagai salah satu perawi hadis yang dianggap banyak menampilkan hadis-hadis shahih/benar-benar berasal dari Nabi), hanya memuat hal-hal berikut:
a.    Nabi melakukan sholat malam di masjid pada bulan Ramadlon hanya tiga malam.
b.    Sholat tarowih dilakukan dengan berjama’ah
c.    Sholat lail Nabi dilakukan tengah malam sampai menjelang shubuh.
d.    Sholat tarowih adalah sunnat
e.    Sholat tarowih berjamaah di masjid dengan satu imam dimulai saat pemerintahan Khalifah Umar bin Khattab.
f.     Penyatuan umat Islam dalam hal sholat sunnat tarowih adalah hal baru, oleh karena itu Khalifah Umar menyebutnya bid’ah.
         

          Adapun beberapa “model” jumlah rokaat tarowih akan dibahas satu per satu di bawah ini. Namun “model” yang akan dipaparkan adalah “model” yang sering ditemui di Indonesia, Sedangkan “model-model” yang lain hanya akan dibahas secara sekilas.
1.      20 Rokaat
          Menurut semua imam mujtahid madzhab (Syafi’i, Maliki, Hanbali, dan Hanafi), jumlah rokaat sholat sunnat tarowih adalah 20 rokaat dengan dua-dua rokaat (tiap 2 rokaat 1 kali salam). Hal itu didasarkan pada hadis al-Baihaqi bahwa pada saat Khalifah Umar bin Khattab r.a mengumpulkan para sahabat untuk melakukan sholat tarowih secara berjama’ah dan menunjuk sahabat Ubay bin Ka’ab sebagai imamnya. Sholat tarowih yang dilakukan adalah 20 rokaat.
كَانُوْا يَقُوْمُوْنَ عَلَى عَهْدِ عُمَرَ ابْنِ الْخَطَّابِ رَضِيَ الله عَنْهُ فِي رَمَضَانَ بِعِشْرِيْنَ رَكْعَةً وَكَانُوْا يَقُوْمُوْنَ بِالمْاِئَتَيْنِ وَكَانُوْا يَتَوَكَّؤُوْنَ عَلَى عِصِيِّهِمْ فِى عَهْدِ عُثْمَانَ مِنْ شِدَّةِ الْقِيَامِ (رواه البيهقى)
       Kaum muslimin mendirikan (sholat sunnat tarowih) pada masa Umar bin al-Khattab r.a di bulan Romadlon dengan 20 rokaat. Mereka melakukan (tarowih) dengan (bacaan) 200 (ayat tiap rokaat) pada masa Utsman dan mereka bersandar pada tongkat, karena semangat melakukannya. (HR Baihaqi)
كَانَ النَّاسُ يَقُومُونَ فِي زَمَانِ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ فِي رَمَضَانَ بِثَلاَثٍ وَعِشْرِينَ رَكْعَةً (رواه مالك)
       Kaum muslimin melakukan sholat sunnat tarowih pada masa Umar bin Khattab dengan 23 rokaat. HR Malik
       Sejak saat itu sampai sekarang, di Masjid Nabawi Madinah dan Masjidil Haram Makkah pelaksanaan sholat sunnat tarowih dilakukan secara berjama’ah sebanyak 20 rokaat. Bahkan pelaksanaannya dilakukan semalam suntuk. Setelah sholat Isya’, dilakukan sholat tarowih sebanyak 20 rokaat sampai tengah malam (karena yang dibaca setelah surat al-Fatihah adalah ayat-ayat panjang). Setelah selesai sholat tarowih, dilanjutkan sholat sunnat malam (qiyamul lail) sebanyak 8 rokaat dan ditutup dengan witir. Waktu yang tersisa sekitar 1 jam digunakan para jama’ah untuk sahur di kedai-kedai samping Masjidil Haram.
      Para ulama yang mendukung pendapat Khalifah Umar tentang masalah ini (sholat sunnat tarowih 20 rokaat) berpegangan pada sebuah hadis bahwa atsar sahabat Khulafa’ur Rasyidun (keputusan yang dibuat oleh sahabat empat yaitu Abu Bakar ash-Shiddiq r.a., Umar bin al-Khattab r.a., Utsman bin Affan r.a., dan Ali bin Abi Thalib r.a.) adalah dibenarkan oleh Nabi.
مَنْ يَعِشْ مِنْكُمْ يَرَى اخْتِلاَفًا كَثِيرًا وَإِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ الأُمُورِ فَإِنَّهَا ضَلاَلَةٌ فَمَنْ أَدْرَكَ ذَلِكَ مِنْكُمْ فَعَلَيْهِ بِسُنَّتِي وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِينَ الْمَهْدِيِّينَ عَضُّوا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ
          Barangsiapa di antara kalian yang hidup nanti akan melihat banyak perselisihan, dan perkara-perkara baru. Sungguh hal itu adalah menyesatkan. Maka barangsiapa di antara kalian menemuinya, maka haruslah kalian tetap mengikuti sunnahku dan sunnah khulafa’ur rasyidun yang diberi petunjuk. Pegangilah dengan erat!” (HR Turmudzi dan diriwayatkan juga oleh Abu Dawud, Ibnu Majah, Ahmad, dan Daromi)
Ajaran mengikuti perintah-perintah Rasulullah dan pendapat-pendapat Khulafa’ur Rasyidun inilah kemudian yang disebut sebagai ahlusssunah waljama’ah.
      Dalam riwayat lain yang disebutkan oleh KH Ali Ma’shum (alm) mantan Pengasuh Pondok Pesantren Al-Munawir Krapyak Yogyakarta alam bukunya Hujjah Ahlusssunah Waljama’ah (Argumentasi Ahlussunnah Waljama’ah) bahwa pada jaman Rasulullah masih hidup, beliau hanya melaksanakan sholat sunnat tarowih di masjid selama tiga malam (tanggal 23, 25, dan 27 Romadlon) dengan jumlah 8 rokaat di masjid dan diteruskan di rumah 12 rokaat secara sendirian. Hal ini juga diikuti oleh para sahabat bahkan sepeninggal Nabi dan semasa kepemimpinan Khalifah Abu Bakar r.a. Setelah Rasulullah SAW dan Abu Bakar r.a. wafat dan kekhalifahan dipimpin oleh Umar bin Khatthab r.a., maka Khalifah Umar mengusulkan diadakannya jama’ah sholat tarowih sebagaimana keterangan di atas.
          Di samping itu ada juga hadis Nabi yang menyebutkan kebenaran keputusan dari Khalifah Umar, yaitu:
إِنَّ الله جَعَلَ الْحَقَّ عَلَى لِسَانِ عُمَرَ وَقَلْبِهِ (رواه الترمذى)
     Seseungguhnya Allah telah menjadikan kebenaran pada lisan dan hati Umar. HR at-Turmudzi.
       Adapun mengenai jumlah rokaat tiap sholatnya adalah dua-dua rokaat sebagaimana sholat sunnat yang lain (kecuali sholat witir). Jika demikian, maka 20 rokaat tarowih akan memiliki 10 kali sholat, 10 kali istirahat jeda antar sholat dan biasanya ada jeda istirahat 4 kali yang lebih panjang (setiap 4 rokaat). Dengan demikian maka hal ini sesuai dengan namanya, yaitu tarowih yang berbentuk jama’ (lebih dari dua) yang berarti “banyak istirahatnya”.
أَنَّ رَجُلاً جَاءَ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهُوَ يَخْطُبُ فَقَالَ كَيْفَ صَلاَةُ اللَّيْلِ فَقَالَ مَثْنَى مَثْنَى فَإِذَا خَشِيتَ الصُّبْحَ فَأَوْتِرْ بِوَاحِدَةٍ (رواه متفق عليه)
          Sesungguhnya seorang laki-laki mendatangi Nabi saat beliau berkhutbah. Laki-laki itu berkata, “Bagaimana mengerjakan sholat malam?”. Nabi menjawab, “dua rokaat-dua rokaat. Maka jika engkau khawatir datangnya waktu shubuh maka witirlah dengan satu rokaat.” (HR Muttafaq ‘alaih, yaitu Bukhari, Muslim, Turmudzi, Nasa’i, Abu Dawud, Ibnu Majah, Ahmad, dan Malik)
2.      8 Rokaat
          Jama’ah yang melaksanakan sholat sunnat tarowih 8 rokaat dengan 4 rokaat-4 rokaat (tiap 4 rokaat satu kali salam) mendasarkan diri pada sebuah hadis yang berasal dari Aisyah r.a., istri Rasululllah SAW berikut.
سُأِلَ عَائِشَةُ رَضِيَ الله عَنْهَا كَيْفَ كَانَتْ صَلاَةُ رَسُولِ الله صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي رَمَضَانَ فَقَالَتْ مَا كَانَ رَسُولُ الله صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَزِيدُ فِي رَمَضَانَ وَلاَ فِي غَيْرِهِ عَلَى إِحْدَى عَشْرَةَ رَكْعَةً يُصَلِّي أَرْبَعًا فَلاَ تَسَلْ عَنْ حُسْنِهِنَّ وَطُولِهِنَّ ثُمَّ يُصَلِّي أَرْبَعًا فَلاَ تَسَلْ عَنْ حُسْنِهِنَّ وَطُولِهِنَّ ثُمَّ يُصَلِّي ثَلاَثًا قَالَتْ عَائِشَةُ فَقُلْتُ يَا رَسُولَ الله أَتَنَامُ قَبْلَ أَنْ تُوتِرَ فَقَالَ يَا عَائِشَةُ إِنَّ عَيْنَيَّ تَنَامَانِ وَلاَ يَنَامُ قَلْبِي (رواه البخارى ومسلم)        
      Aisyah ditanya, “Bagaimana sholat Nabi SAW di bulan Romadlon?”. Aisyah menjawab, “ Rasulullah tidak pernah menambah dari 11 rokaat, baik di bulan Romadlon maupun pada bulan lainnya. Beliau sholat empat (roka’at). Engkau jangan tanyakan tentang baik dan lamanya. Kemudian sholat empat (rokaat). Engkau jangan tanyakan tentang baik dan lamanya. Kemudian beliau sholat 3 (rokaat). Aisyah bertanya kepada Nabi, Ya Rasulullah, apakah Engkau akan tidur (padahal) belum witir?. Rasulullah menjawab, “Ya Aisyah, sungguh kedua mataku tidur, akan tetapi hatiku tidak tidur. (HR Bukhari Muslim).
          Dengan hadis ini maka disimpulkan bahwa berdasar pengamatan Siti Aisyah (istri terakhir Rasulullah), ketika ditanya tentang bagaimana dan berapa sholat Rasulullah di bulan Romadlon, Rasulullah sholat malam, baik di bulan Romadlon maupun di luar Romadlon, tidak lebih dari 11 rokaat. Pelaksanaan sholat tersebut adalah 4 rokaat-4 rokaat dan diakhiri sholat witir 3 rokaat. Hadis ini kemudian oleh para sebagian ulama dimaknai bahwa sholat sunnat tarowih dilakukan sebayak 8 rokaat dengan susunan 4-4 dan diakhir witir 3 rokaat.
Bagaimana sikap kita?
          Terhadap adanya perbedaan dalam jumlah rokaat dalam sholat sunnat tarowih dan terhadap perbedaan-perbedaan lain yang sering kita jumpai dalam kehidupan bermasyarakat, baik dalam kancah keagamaan, politik, dan sosial harus kita sikapi dengan penuh bijak dan harus tetap dalam koridor ukhuwah islamiyyah. Jangan sampai kita menganggap bahwa pendapat dari (golongan) kita adalah pendapat yang PALING BENAR, dan pendapat dari (jama’ah) lain adalah SALAH. Menyesatkan yang lain, dan menshahihkan dirinya, seolah-olah dalam dirinya terdapat kebenaran. Padahal kebenaran di dunia adalah relatif, sedangkan kebenaran yang hakiki dan mutlak adalah milik Allah.
          Termasuk dalam masalah sholat sunnat tarowih ini, perbedaan jumlah rokaat sholat bukanlah perbedaan yang mendasar, hanya bersifat furu’iyyah (cabang-cabang Islam). Jadi, adalah naif jika kita masih mempermasalahkan jumlah rokaat. Masih banyak permasalahan besar umat yang lain dan lebih urgen/penting untuk dipecahkan bersama-sama, seperti korupsi, bencana, dakwah, kemaksiatan, dan lain-lain.
          Seringkali terjadi dalam anggapan masyarakat bahwa jumlah rokaat “menandai” golongannya. Misalnya, jika seseorang atau suatu masjid dilaksanakan sholat tarowih berjumlah 20 rokaat, maka disebut “orang NU” atau “masjid NU”. Sedangkan jika seseorang atau di masjid dilaksanakan sholat tarowih 8 rokaat disebut sholatnya “orang Muhammadiyah” atau “masjid Muhammadiyah”. Memang diakui bahwa sebagian besar warga NU mempergunakan/mengikuti pendapat sholat tarowih itu 20 rokaat, dan sebagian besar warga Muhammdiyah adalah 8 rokaat. Padahal, 20 dan 8 rokaat bukanlah “identitas” masing-masing. Perbedaan itu telah terjadi ratusan tahun lalu, bahkan sebelum datangnya agama Islam di Indonesia. Sebuah keterangan dalam Fath al-Bari, kitab kumpulan hadis Imam Bukhari dan sarahnya (keterangan/penjelasannya), ketika memberi keterangan tentang beberapa hadis qiyamu Romadlon menyebutkan bahwa:
          “Dalam riwayat ini tidak menyebutkan jumlah rokaat (qiyamu Romadlon) yang dilakukan oleh Ubay bin Ka’ab (sahabat Nabi yang ditunjuk Umar bin Khatthab menjadi imam jama’ah tarawih,-pen). Dengan demikian, maka terdapat perbedaan pendapat (ikhtilaf) mengenai jumlah rokaat itu. Dalam kitab Muwatha karya Imam Malik, riwayat dari Muhammad bin Yusuf dari Sa’id bin Yazid, sholat qiyamu Romadlon itu 11 rokaat. Muhammad bin Nasr al-Marwazi dari Muhammad bin Ishaq dari Muhammad bin Yusuf meriwayatkan 13 rokaat. Abdurrozzaq dari Muhammd bin Yusuf meriwayatkan 21 rokaat. Malik dari Yazid bin Hashifah dari as-Sa’ib bin Yazid meriwayatkan 20 rokaat, tidak termasuk witir. Yazid bin Ruman meriwayatkan 23 rokaat. Muhammad bin Nasr dari Atho’ meriwayatkan 20 rokaat (tarowih) dan 3 rokaat sholat witir. Ikhtilaf/perbedaan ini kemungkinan disebabkan karena bacaan yang panjang. Jika panjang maka disebut beberapa rokaat, atau sebaliknya. Jumlah rokaat yang pertama (11 rokaat, pen.) sesuai dengan hadis ‘Aisyah, sedangkan yang kedua (13 rokaat) jumlahnya mendekati. Sedangkan dalam riwayat 20 rokaat terdapat perbedaan mengenai sholat sunnat witirnya, ada yang 1 rokaat sholat witir an ada yang 3 rokaat sholat witir. Muhammad bin Nasr dari Dawud bin Qais meriwayatkan bahwa kaum muslimin pada kepemimpinan Aban bin Utsman dan Umar bin Abdul Aziz di Madinah mendirikan sholat qiyamu Romadlon sebanyak 36 rokaat dan sholat witir 3 rokaat. Al-Za’faroni dari asy-Syafi’i meriwayatkan bahwa kaum muslimin di Madinah (dahulu) melakukan sholat qiyamu Romadlon sebanyak 39 rokaat dan di Makkah 23 rokaat. At-Turmudzi meriwayatkan bahwa pendapat tentang sholat qiyamu Romadlon dikerjakan dengan paling banyak 40 rokaat dengan sholat witir 7 rokaat. Muhammad bin Nars dari Ibnu Aiman dari Malik menyebutkan 38 rokaat dan yang masyhur (terkenal) adalah 36 rokaat dan pelaksanaannya bahkan sampai 100 tahun lebih. Dalam riwayat Malik yang lain disebutkan juga bahwa sholat qiyamu Romadlon adalah 46 rokaat dan 3 rokaat witir. Ibnu Wahab dari al-Amri dari Nafi meriwayatkan, “Saya tidak menemui kaum muslimin kecuali mereka melakukan sholat qiyamu Romadlon sebanyak 39 rokaat dengan 3 rokaat witir. Zararah bin Aufa meriwayatkan bahwa dia sholat qiyamu Romadlon di Bashrah (sekarang di negara Irak, -pen.) sebanyak 34 rokaat. Sedangkan Sa’id bin Jabir meriwayatkan 24 rokaat dan Abi Mujalliz meriwayatkan 16 rokaat...”
          Dari keterangan ini dapat disimpulkan bahwa terdapat banyak perbedaan di antara kaum muslimin mengenai jumlah rokaat sholat qiyamu Romadlon, yaitu:
1.       11 rokaat (tarowih dan witir)               8.      34 rokaat
2.      13 rokaat (tarowih dan witir)                9.      36 rokaat
3.      16 rokaat                                            10.    36 rokaat tarowih dan 3 rokaat witir
4.      20 rokaat tarowih dan 3 rokaat witir      11.    38 rokaat
5.      21 rokaat (tarowih dan witir)                12.    39 rokaat (tarowih dan witir)
6.      23 rokaat (tarowih dan witir)                13.    40 rokaat tarowih dan 7 rokaat witir
7.       24 rokaat                                           14.    46 rokaat tarowih dan 3 rokaat witir
Sebuah Gagasan “Rekonsiliasi”
      Memperhatikan adanya sejumlah perbedaan dalam penentuan jumlah rokaat sholat tarowih seperti dijelaskan di atas dan ternyata masalah ini juga terjadi di Indonesia, maka menurut hemat penulis perlu dilakukan upaya rekonsiliasi agar tidak memperuncing perbedaan tersebut. Wujudnya, karena perbedaan yang sering kali terjadi adalah jumlah 20 rokaat (dengan tiap 2 rokaat 1 salam) dan 8 rokaat (dengan tiap 4 rokaat 1 salam), maka langkah rekonsiliasi atau jalan tengah adalah “menyamakan” jumlah rokaat tiap sholatnya, yaitu 2 rokaat 1 salam dan tetap sebanyak 8 rokaat, dan ditutup dengan 3 rokaat sholat witir (boleh langsung 3 rokaat sekaligus atau “dipecah”: 2 rokaat salam dan ditutup 1 rokaat). Dengan demikian, maka bagi orang yang terbiasa dengan 8 rokaat tetap menjalankannya dan bagi orang yang terbiasa dengan 20 rokaat dapat tetap melanjutkan 12 rokaat lagi setelah selesai. Praktek semacam ini telah dilaksanakan di Masjid Sunan Kalijaga, kampus UIN Sunan Kalijaga yang notabene sebagai tempat berkumpulnya tokoh-tokoh nasional dari dua jama’ah, yakni jama’ah organisasi Nahdlatul Ulama (NU) yang dicap “jama’ah 20 rokaat” dan jama’ah organisasi Muhammadiyah yang dicap “jama’ah 8 rokaat”.
Bagaimana di masjid Al-Muttaqin Salakan?
Wallaahu a’lam bi ash-shawaab.